Penyebab Mata Uang Iran Runtuh: Guncang Ekonomi Nasional
- by Rahmad Zayadi Muhajjir
- Editor Femmy Asti Yofani
- 18 Jan 2026
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis : Mata uang nasional Iran, rial, mengalami tekanan luar biasa dan jatuh ke rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir, yang memicu krisis sosial dan protes besar di sejumlah kota besar di Iran. Kondisi ini menjadi tanda tingkat ketidakstabilan ekonomi yang semakin dalam.
Di pasar bebas, nilai tukar rial telah mencapai lebih dari 1,4 juta hingga 1,6 juta rial per dolar AS, jauh di bawah angka historis beberapa tahun sebelumnya, memaksa banyak Iranians menukar tabungan mereka ke mata uang asing atau aset lain demi menjaga nilai kekayaan mereka. Dilansir dari Al-jazeera berikut beberapa penyebab runtuhnya nilai mata uang Iran 2026:
1. Sanksi Internasional yang Menekan Ekonomi
Iran sejak lama menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, terutama yang membatasi ekspor minyak dan akses perdagangan internasional. Hal ini membuat aliran devisa negara menurun drastis, sehingga pusat bank sulit mempertahankan cadangan valuta asing dan stabilisasi kurs.
2. Harga Minyak dan Pendapatan Negara Turun
Sebagai negara penghasil minyak, Iran sangat bergantung pada ekspor energi. Penurunan produksi dan harga minyak secara langsung mengurangi pendapatan yang diperlukan untuk membiayai anggaran negara dan mempertahankan nilai tukar rial.
3. Inflasi yang Sangat Tinggi
Inflasi di Iran melampaui 40% per tahun, yang mengikis daya beli masyarakat dan memicu aksi spekulatif untuk menukar rutial ke mata uang lain atau emas. Permintaan tinggi ini semakin mempercepat penurunan nilai mata uang.
4. Kebijakan Kurs Ganda dan Ketidakpastian Pasar
Iran menerapkan beberapa tingkat nilai tukar resmi, subsidi tertentu, serta peraturan yang berubah-ubah. Ketika pemerintah mencabut kurs preferensial tersebut dan memaksa importir membeli valuta asing di pasar bebas, permintaan dolar melonjak tajam, sehingga merosotkan kurs rial secara drastis.
5. Ketidakpercayaan Publik dan Kapital Flight
Masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap kestabilan ekonomi. Ketika orang memilih menyimpan aset dalam dolar, emas, atau properti ketimbang rial, tekanan turun semakin besar, memperburuk depresiasi mata uang.
Penurunan nilai tukar ini tidak hanya angka statistik. Inflasi tinggi telah membuat harga kebutuhan pokok naik, tabungan warga merosot nilainya, dan membuat biaya hidup menjadi beban besar bagi rakyat biasa. Hal ini menjadi salah satu pendorong protes dan demonstrasi yang meningkat di berbagai wilayah negara.
Pemerintah Iran mengklaim sedang mencoba mengatasi masalah ini, termasuk dengan pengaturan ulang sistem kurs dan pembicaraan tentang pengurangan angka nol pada mata uang sebagai bagian dari redenominasi. Namun para analis ekonomi memperingatkan bahwa tanpa reformasi mendalam dalam struktur ekonomi, kebijakan fiskal, dan pelonggaran sanksi, stabilisasi nilai tukar akan tetap menjadi tantangan besar.