Makna Isra Mi’raj Bagi Kehidupan Muslim
- by TSM Iqbal
- Editor Femmy Asti Yofani
- 17 Jan 2026
- Bengkalis
RRI.CO.ID, Bengkalis - Dalam beberapa hari ini, di Masjid-masjid ataupun di Surau-surau sedang disibukkan kegiatan pengajian dengan menghadirkan kyai atau ustadz untuk bisa menyampaikan wejangan atau tausiah sehubungan dengan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1447 H yang baru saja diperingati.
Peristiwa Isra Mi’raj ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian Nabi Muhammad SAW berupa perjalanan dua tahap dalam satu malam, ketika itu beliau sedang menghadapi masa sulit dalam dakwahnya, termasuk wafatnya istri tercinta, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib.
Isra sendiri merupakan perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerussalem. dengan ditemani Malaikat Jibril menggunakan kendaraan Buraq.
Sedangkan Mi’raj, bahwa setelah tiba di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan menuju langit tertinggi Sidratul Muntaha, bertemu langsung Allah SWT. untuk menerima perintah shalat lima waktu yang menjadi kewajiban bagi seluruh umat Islam.
Terkait hal ini, menurut Ketua Umum Majelis Ulama' Indonesia (Ketum MUI) Kabupaten Bengkalis, Buya Amrizal, bahwa Isra Mi'raj menyiratkan pesan agar Umat Islam senantiasa membangun kedekatan kepada Allah SWT dan menjalin hubungan baik sesama manusia.
Kedekatan kepada Allah SWT dalam peristiwa isra mi'raj disimbolkan dengan masjid dan salat. Nabi Muhammad melakukan perjalan isra dari masjid al-haram di Mekkah ke masjid al-aqsha di palestina. Sewaktu perjalanan mikraj, Nabi Muhammad SAw menerima perintah Salat sehari semalam lima waktu.
"Bagi setiap muslim, dalam hidup jangan sampai menjauh dari masjid dan meninggalkan salat jikalau dia ingin memperoleh rahmat Allah dalam hidup. Kesuksesan dalam hidup tidak ditentukan oleh hasil usaha dan kerja keras manusia, tapi berkat Rahmat Allah SWT," ujarnya, Sabtu, 17 Januari 2026.
Dijelaskan, keutamaan menjalin hubungan baik sesama manusia disimbolkan dengan berbagai peristiwa spiritual yang disaksikan oleh Nabi Muhammad SAW sewaktu perjalanan mikraj, seperti Nabi melihat sekelompok orang yang memiliki kuku dari tembaga lalu mencakar wajah dan dada mereka dengan kuku mereka.
Mereka adalah orang yang suka memburuk-buruk saudaranya selama hidupnya. Ada lagi Nabi Melihat sekelompok orang yang memegang gunting dari besi kemudian menggunting lidah-lidah mereka. Begitulah seterusnya. Mereka adalah orang yang suka menebarkan fitnah.
Selain itu, nabi melihat sekelompok orang yang memiliki perut besar sekali. Lalu mereka berjalan, tapi setelah itu mereka terjatuh karena tak kuat menahan beban beratnya perut mereka. Mereka itu adalah yang suka memakan harta yang haram.
Menjalin hubungan baik dengan sesama manusia merupakan sisi penting yang harus diperhatikan setiap muslim di samping menjalin kedekatan hubungan dengan Allah SWT. Hubungan sosial yang kurang baik atau buruk bisa mengakibatkan ibadah yang dilakukan seorang Muslim berkurang nilai pahalanya atau terancam tidak diterima alias sia-sia.
"Hadits sahih tentang manusia yang bangkrut di akhirat menguatkan kesimpulan di atas, " kata Buya Amrizal.
Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat, sedangkan ia telah mencaci si fulan, mendustakan si Fulan, memakan harta si Fulan, membunuh si Fulan, dan menganiaya si Fulan sehingga (kesalahannya) ini diambil dari kebaikannya, dosa ini diambil dari kebaikannya sehingga setelah kebaikannya habis sebelum diputuskan kepadanya, lalu keburukan mereka diambil dan ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka. (H.R. Muslim).