Hubungan yang Sehat Itu Seperti Apa?
- by Rizka Medio Octoria
- Editor Reja Aribowo
- 20 Jan 2026
- Bengkulu
RRI.CO.ID - Bengkulu, Banyak orang bertahan dalam hubungan karena takut sendiri, takut kehilangan, atau berharap pasangan akan berubah. Padahal, tidak semua hubungan layak dipertahankan. Pertanyaan penting yang sering luput kita tanyakan adalah: apakah hubungan ini menyehatkan, atau justru perlahan merusak diri kita?
Psikolog Vanika Oktia menggambarkan hubungan yang sehat dengan sangat sederhana namun mendalam:
“Hubungan yang sehat membuatmu merasa lebih utuh, bukan lebih hancur. Hubungan yang sehat menenangkan sistem saraf, bukan membuat tubuhmu sakit.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa kualitas hubungan dapat dirasakan tidak hanya secara emosional, tetapi juga secara fisik dan mental.
1. Membuat Diri Merasa Aman, Bukan Cemas
Dalam hubungan yang sehat, seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Tidak ada ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, dimarahi, atau direndahkan. Tubuh pun merespons dengan rasa tenang—napas lebih teratur, pikiran lebih jernih, dan tidur lebih nyenyak.
Menurut Vanika, hubungan yang menyehatkan akan menenangkan sistem saraf, bukan memicu kewaspadaan terus-menerus seperti sedang berada dalam ancaman.
2. Hadirnya Komunikasi yang Jujur dan Menghargai
Hubungan sehat dibangun di atas komunikasi yang terbuka. Perbedaan pendapat tidak dihindari, tetapi dibicarakan tanpa saling menyerang. Tidak ada permainan diam, manipulasi emosi, atau ancaman kehilangan sebagai alat kontrol.
Saat komunikasi berjalan sehat, konflik menjadi ruang tumbuh, bukan sumber luka.
3. Mendukung Pertumbuhan, Bukan Mengerdilkan
Pasangan dalam hubungan sehat saling mendukung untuk berkembang—baik secara karier, emosional, maupun spiritual. Tidak ada rasa terancam saat salah satu tumbuh lebih maju.
Jika sebuah hubungan membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri, menjauh dari orang-orang terdekat, atau merasa dirinya “tidak pernah cukup”, itu tanda hubungan tersebut perlu dievaluasi.
4. Tidak Mengorbankan Kesehatan Mental dan Fisik
Hubungan yang tidak sehat sering ditandai dengan gejala fisik: mudah lelah, sakit kepala, gangguan pencernaan, sulit tidur, hingga kecemasan berkepanjangan. Tubuh sebenarnya sedang “berbicara”.
Seperti yang disampaikan Vanika, hubungan yang sehat tidak membuat tubuhmu sakit. Justru sebaliknya, tubuh merasa lebih ringan dan emosi lebih stabil.
5. Ada Rasa Saling Menghormati dan Batasan yang Jelas
Cinta tidak menghapus batas. Dalam hubungan sehat, masing-masing individu tetap memiliki ruang pribadi, pendapat, dan hak untuk berkata tidak. Menghormati batas pasangan adalah bentuk cinta yang dewasa, bukan tanda menjauh.
6. Masalah Diselesaikan, Bukan Disimpan
Tidak ada hubungan tanpa konflik. Namun, dalam hubungan sehat, masalah dibahas dan diselesaikan, bukan ditimbun hingga meledak. Kedua pihak berusaha memahami, bukan saling menyalahkan.
Hubungan yang sehat bukan tentang drama yang intens atau pengorbanan tanpa batas. Hubungan yang sehat adalah tempat pulang—di mana hati merasa tenang, pikiran terasa aman, dan tubuh tidak terus berada dalam mode bertahan hidup.
Jika sebuah hubungan membuatmu lebih sering lelah daripada bahagia, lebih sering ragu daripada yakin, mungkin sudah saatnya bertanya: apakah ini hubungan yang menyehatkan, atau hanya kebiasaan yang sulit dilepaskan?
Karena seperti kata Psikolog Vanika Oktia, hubungan yang sehat membuatmu lebih utuh—bukan lebih hancur.