Salah Pola Asuh Bisa Buat Anak Jadi Koruptor
- by Mariamy.Penyiar
- Editor Yudi Prama Agustino
- 8 Des 2025
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Siapa sih yang mau anaknya tumbuh besar jadi koruptor? Tentu tidak ada. Tapi tanpa sadar, pola asuh yang salah justru bisa menanamkan bibit-bibit perilaku koruptif sejak kecil. Bukan hanya soal memberikan contoh buruk, tapi juga bagaimana orang tua membentuk kepribadian anak dalam menghadapi aturan dan godaan.
Misalnya, ketika orang tua sering “mengakali” sesuatu di depan anak: menyerobot antrean, menyuruh anak berbohong demi keuntungan kecil, atau membiasakan hadiah untuk setiap tugas yang seharusnya jadi tanggung jawab. Sikap kecil seperti ini bisa berkembang menjadi karakter yang terbiasa mencari jalan pintas.
Anak yang selalu dimanjakan dan tidak pernah diberikan aturan jelas, berpotensi tumbuh tanpa rasa bersalah saat melakukan kesalahan. Mereka merasa segalanya bisa didapat tanpa usaha, apalagi jika selalu dibela meski mereka salah. Mental seperti ini bisa menjadi akar dari sikap tamak.
Penelitian antikorupsi menunjukkan bahwa perilaku koruptif ternyata bukan muncul secara tiba-tiba. Banyak pelaku korupsi di Indonesia yang memiliki kecenderungan perilaku manipulatif dan minim empati sejak usia muda. Hal ini berawal dari lingkungan keluarga yang kurang mengajarkan integritas.
Selain itu, ketika orang tua terlalu menekan anak untuk sukses tanpa mengajarkan nilai kejujuran, maka anak akan mencari cara apa pun agar dianggap “berprestasi”. Di sekolah ia bisa mencontek, kelak di dunia kerja ia bisa menyalahgunakan jabatan. Prinsipnya: yang penting berhasil, jujur atau tidak nomor dua.
Belajar berbagi, memahami aturan, dan menerima konsekuensi adalah bagian penting dari pendidikan antikorupsi sejak dini. Anak perlu dibiasakan untuk menunggu giliran, meminta izin, dan bertanggung jawab atas kesalahan. Latihan kecil itu melatih moral besar di masa depan.
Orang tua juga harus memberi contoh nyata. Tidak ada gunanya menyuruh anak jujur jika orang tuanya mudah berbohong untuk alasan apa pun. Anak itu peniru ulung. Sikap orang tua adalah guru yang paling diingat, meskipun tidak pernah diucapkan sebagai nasihat.
Di tengah maraknya kasus korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah, generasi baru harus menjadi harapan untuk perubahan. Dan itu bermula dari ruang terkecil: keluarga. Orang tua adalah benteng pertama sekaligus utama pembentukan karakter antikorupsi.
Jadi, mari mulai bertanya pada diri sendiri: sudah benarkah cara kita mendidik anak? Jangan sampai masa depan bangsa hancur hanya karena pola asuh yang salah sejak kecil. Indonesia butuh anak-anak berintegritas, bukan calon koruptor baru. (AMY/YPA)