Seperti Apa Psikologis orang yang Suka Uang Haram?

KBRN, Bukittinggi : Kenapa ada orang yang hidup berkecukupan, bahkan berlimpah, tapi tetap mencari uang haram? Secara psikologis, perilaku ini ternyata tidak sesederhana soal kebutuhan ekonomi. Banyak faktor kepribadian dan kondisi mental yang mendorong seseorang menikmati penghasilan yang diperoleh dengan cara tidak sah.

Pertama, ada ciri yang disebut

greed personality, sifat tamak yang membuat seseorang tidak pernah merasa cukup. Mereka memiliki ketagihan pada rasa menang, atau superioritas ketika bisa mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak bisa dilakukan orang lain.

Kedua, perilaku mencari uang haram sering dikaitkan dengan

impulsivitas atau ketidakmampuan mengendalikan diri. Godaan keuntungan cepat membuat logika dan moral kalah oleh nafsu sesaat. Mereka lebih fokus pada hasil instan ketimbang risiko jangka panjang.

Ada juga

distorsi moral dalam pemikiran mereka. Misalnya, “semua orang juga melakukan ini kok”, atau “yang aku ambil tidak seberapa dibandingkan kekayaan negara”. Pembenaran seperti ini membuat hati nurani mati perlahan sehingga tindakan salah terasa biasa saja.

Orang yang suka uang haram juga sering memiliki

empati yang rendah. Mereka tidak peduli apakah tindakannya merugikan orang lain. Selama dirinya diuntungkan, konsekuensi sosial bukan urusan mereka. Kondisi ini bisa berkembang dari pola asuh dan lingkungan pergaulan yang salah.

Dalam beberapa studi psikologi kejahatan, ditemukan bahwa sebagian pelaku korupsi atau kejahatan finansial mengalami

adiksi terhadap kekuasaan dan status. Uang haram bagi mereka bukan sekadar uang, tetapi simbol kemenangan dan kontrol atas orang lain.

Namun, di balik itu semua, mereka hidup dalam

kecemasan berlapis. Takut ketahuan, takut hilang kenyamanan, takut jatuh miskin setelah terbiasa mewah. Hidupnya penuh kepura-puraan, sehingga membutuhkan “dosis” uang haram yang lebih besar untuk merasa aman.

Sayangnya, semakin lama seseorang menikmati uang haram, semakin menipis kemampuan dirinya untuk merasa bersalah. Ini membuat lingkaran setan yang sulit dihentikan tanpa intervensi hukum atau perubahan karakter yang mendasar.

Kesimpulannya, orang yang suka uang haram bukan hanya bermasalah secara legal, tetapi juga

secara psikologis dan moral. Mereka kehilangan nilai kejujuran, empati, dan rasa cukup. Harta yang didapat tidak halal, sering kali juga tidak pernah membawa ketenangan sejati.

Pada akhirnya, kekayaan yang diperoleh dengan cara kotor hanya akan meninggalkan

takut, cemas, dan penyesalan. Sementara uang halal, meski tidak banyak, selalu membawa keberkahan. Jadi, pertanyaannya: mau hidup bergelimang harta di atas kecemasan, atau hidup sederhana dengan hati yang merdeka. (AMY/YPA)

Rekomendasi Berita