Bos Warner Bros Suka Joker 2 Meski Gagal

RRI.CO.ID, Cirebon - Kegagalan film

Joker: Folie à Deux di bioskop benar-benar bikin heboh internal Warner Bros. Setelah rugi triliunan rupiah, kini muncul kabar kalau pihak studio menyesal telah memberi "kebebasan tanpa batas" kepada sutradaranya, Todd Phillips.

Dilansir The Wrap Kamis, 15 Januari 2026, kesuksesan film pertama membuat Todd Phillips punya kuasa penuh di sekuel ini. Sayangnya, kendali mutlak tanpa pengawasan itulah yang sekarang dituduh jadi penyebab utama kegagalannya.

"Film itu emang bener-bener beda banget konsepnya (revisionis)," kata bos Warner Bros. Michael De Luca ke The Wrap.

"Mungkin saking bedanya, jadi agak susah masuk ke selera penonton umum secara global. Tapi menurut gue, Todd sama partner penulisnya, Scott Silver, udah ngelakuin hal yang jarang berani diambil sama pembuat film sekuel lainnya: mereka milih buat nggak ngulangin formula yang sama. Gue pribadi bener-bener angkat topi buat mereka karena berani eksplorasi hal baru, cuma ya sayangnya hasil akhirnya emang nggak nyambung aja sama audiens."

Namun meski terbilang gagal di pasaran De Luca mengaku menyukai film tersebut.

"Aku suka banget sama film itu. Sampai sekarang (masih suka)," ucapnya.

Tod Phillips dikabarkan tidak ingin berhubungan dengan pihak mana pun di luar lingkaran kecilnya dalam menggarap film keduanya ini. Bahkan ia menolak melakukan test screening sebelum film ditayangkan.

Tindakan Phillips disebut memicu gesekan dengan James Gunn serta Peter Safran, bos baru DC Studios. Di satu kesempatan Phillips bahkan menegaskan bahwa film ini adalah entitas terpisah dan "tidak mau berurusan" dengan arahan kreatif baru dari DC Studios.

Konsep musical yang diusung Phillip justru membuat para penggemar film pertamanya merasa asing dan menjauh. Di saat yang sama, biaya produksi membengkak hingga Rp3 triliun lebih karena pihak studio terlalu membebaskan Phillips tanpa pengawasan.

Biaya produksi yang melonjak hingga USD 200 juta habis begitu saja untuk membayar gaji mahal para pemain utama dan biaya operasional yang tak terkontrol. Kasus ini menjadi pelajaran pahit bagi Hollywood bahwa memberikan kebebasan mutlak dan "cek kosong" kepada seorang sutradara tanpa adanya kontrol dari studio bisa berakhir menjadi bencana finansial yang besar.

Rekomendasi Berita