RRI.CO.ID, Entikong - Tren suntik putih kembali ramai diperbincangkan setelah media sosial memberitakan sejumlah kasus tragis, termasuk kabar seseorang yang meninggal dunia jelang pernikahan karena ingin tampil lebih cerah. Keinginan instan untuk memutihkan kulit membuat sebagian orang mengabaikan faktor keselamatan, padahal risikonya nyata dan bisa berujung fatal.
Suntik putih kerap dipromosikan sebagai jalan pintas mendapatkan kulit cerah dalam waktu singkat. Iklan-iklan di media sosial menampilkan testimoni dan klaim hasil cepat tanpa penjelasan memadai tentang efek samping. Narasi “aman dan alami” sering kali menyesatkan, terlebih bila dilakukan di luar pengawasan tenaga medis yang kompeten.
Secara umum, suntik putih merujuk pada penyuntikan zat tertentu ke dalam tubuh untuk menekan produksi melanin. Masalah muncul ketika komposisi, dosis, dan prosedur tidak jelas. Banyak produk beredar tanpa izin, dipasarkan bebas, dan digunakan berulang kali tanpa pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.
Risiko kesehatan dari praktik ini tidak bisa dianggap remeh. Reaksi alergi berat, gangguan organ, infeksi, hingga syok anafilaktik dapat terjadi. Pada kondisi tertentu, komplikasi berkembang cepat dan sulit ditangani, terutama jika penanganan awal terlambat atau dilakukan di fasilitas yang tidak memadai.
Kasus-kasus yang viral di media sosial menjadi pengingat keras bahwa hasil instan menyimpan bahaya tersembunyi. Tekanan sosial, termasuk standar kecantikan menjelang momen penting seperti pernikahan, sering mendorong keputusan tergesa-gesa tanpa pertimbangan medis yang matang.
Para ahli kesehatan berulang kali menegaskan bahwa prosedur apa pun yang melibatkan injeksi harus melalui evaluasi menyeluruh dan dilakukan oleh tenaga profesional berizin. Tanpa itu, risiko meningkat tajam. Edukasi publik menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah tergiur promosi yang menyepelekan keselamatan.
Selain aspek medis, penegakan regulasi juga penting. Pengawasan terhadap peredaran produk dan praktik ilegal perlu diperketat agar tidak ada lagi korban. Platform media sosial diharapkan turut bertanggung jawab membatasi promosi berbahaya yang menyesatkan publik.
Pada akhirnya, kesehatan adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditukar dengan hasil cepat. Kisah duka akibat suntik putih seharusnya menjadi peringatan bersama: kecantikan sejati tidak pernah mengorbankan nyawa. Kesadaran, kehati-hatian, dan informasi yang benar adalah benteng terbaik bagi masyarakat.