SMA 2 Limboto Perkuat Upaya Cegah Putus Sekolah
- by Rusdi Aneta
- Editor Budi Akantu
- 11 Jan 2026
- Gorontalo
KBRN, Gorontalo : Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh SMA Negeri 2 Limboto dalam beberapa tahun terakhir adalah rendahnya motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan mereka. Hal ini diungkapkan oleh Irfan Tanan, Guru Pembimbing dan Konseling di sekolah tersebut, yang menyoroti berbagai masalah yang menyebabkan banyak siswa tidak menunjukkan semangat untuk bersekolah.
“Ada beberapa pola yang sama sebenarnya terjadi di peserta didik. Khusus untuk wilayah SMA 2 Limboto, motivasi atau kesadaran siswa untuk sekolah itu rendah. Saya tidak bisa bilang bahwa ekonominya yang menjadi penyebab, tapi pada kenyataannya anak-anak ini tidak memiliki semangat untuk sekolah,” ujar Irfan pada dialog RRI
Irfan menambahkan bahwa salah satu tanda jelas dari rendahnya motivasi siswa adalah kurangnya cita-cita atau tujuan hidup yang jelas di kalangan mereka. Masalah penggunaan gadget yang berlebihan juga menjadi perhatian utama Irfan.
“Hal ini ditandai dengan tidak adanya cita-cita yang ada di peserta didik. Inilah kemudian yang menyebabkan mereka kadang bolos, terlambat, atau alpa. Terlambat ini juga disebabkan karena mereka terlalu lama bermain gadget,” jelasnya.
“Misalnya, dalam satu malam anak tidak tidur karena main HP, ini kemudian menjadi hal yang menyebabkan siswa itu putus sekolah. Putus sekolah bukan karena siswa ini putus sekolah sebenarnya, tetapi ada kecenderungan-kecenderungan pada pelanggaran-pelanggaran tata tertib yang akhirnya membuat mereka terpaksa dikeluarkan dari sekolah,” ujarnya.
Untuk mengatasi masalah ini, pihak sekolah berinisiatif untuk membuat regulasi yang lebih fleksibel dan mendukung siswa yang menghadapi tantangan tersebut. Dengan adanya regulasi dan pendekatan yang lebih humanis, SMA 2 Limboto berharap dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk berkembang lebih baik.
“Sehingga kami di SMA 2 Limboto membuat beberapa regulasi dalam rangka bagaimana siswa yang tadi motivasinya rendah, dengan gejala-gejala yang saya sebutkan tadi alpa, bolos, dan seterusnya tidak otomatis dikeluarkan dari sekolah,” tegas Irfan
“Kami ingin memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri, menemukan tujuan hidupnya, dan melanjutkan pendidikan tanpa merasa terbebani dengan masalah yang bisa diatasi bersama,” kata Irfan
Irfan juga menyatakan pentingnya keterlibatan semua pihak, baik dari pihak sekolah, orang tua, dan pemerintah, untuk membentuk lingkungan yang mendukung kemajuan siswa.
“Dengan kolaborasi yang baik antara pihak sekolah dan orang tua, serta pemberian motivasi yang tepat, kami yakin siswa akan dapat mengatasi berbagai kendala yang mereka hadapi,” ucapnya
Langkah-langkah yang diambil oleh SMA 2 Limboto ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi para siswa, serta mengurangi angka putus sekolah dan menciptakan generasi muda yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan. (RA)