Gombengsari, Pusat Kebun Kopi Rakyat Banyuwangi

KBRN, Banyuwangi: Aroma kopi menyambut siapa pun yang melintasi Desa Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Di lereng Gunung Ijen, hamparan kebun kopi rakyat membentang hampir di seluruh wilayah desa, menandai denyut ekonomi yang kembali bergeliat.



Saat musim panen, menambah geliat para petani, dengan penuh harap hasil panen melimpah, yang dibarengi harga yang merangkak naik. Dari kebun seluas sekitar 700 hektare dikawasan Gombengsari, kopi robusta menjadi komoditas utama, diselingi ekselsa yang tumbuh di sejumlah lahan warga.

Panen raya berlangsung sejak Juli hingga September. Tahun lalu, pada awal musim, harga kopi sempat turun di kisaran Rp 45 ribu per kilogram, namun tak lama kemudian kembali menguat. Kini, kopi asalan dijual di angka Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram. Sedangkan untuk kopi petik merah dengan mutu lebih baik, harganya bahkan menembus Rp 100 ribu per kilogram.

β€œRata-rata produksi naik hingga 20 persen. Satu hektare bisa menghasilkan lebih dari 1 ton,” tutur Abdurahman, Sekretaris Kelompok Tani Gombengsari, Jum'at (9/1/2025).

Kenaikan produksi tak lepas dari keseriusan petani merawat kebun. Harga yang membaik mendorong mereka kembali membersihkan lahan, memupuk tanaman, dan memangkas cabang kopi secara rutin.

Kini, Gombengsari tak hanya menjual biji kopi mentah. Sebagian warga mulai mengolahnya menjadi kopi sangrai dan bubuk. Sebagai desa wisata kopi, produk lokal ini kerap diburu wisatawan, termasuk dari mancanegara, untuk dijadikan oleh-oleh.

Di lereng Ijen, kopi tak sekadar tanaman. Ia menjadi sumber harapan, penggerak ekonomi, sekaligus identitas rakyat Gombengsari.

Rekomendasi Berita