Sejarah Dasi: Dari Fungsi hingga Gaya

RRI.CO.ID, Jember: Dasi merupakan salah satu item busana pria yang hingga kini masih dikenakan, meskipun tidak lagi sepopuler masa lalu. Secara fungsional, dasi modern lebih bersifat dekoratif. Namun, sejarah mencatat bahwa aksesori ini tidak selalu sekadar hiasan. Menurut ulasan dari

hespokestyle.com, dasi justru memiliki perjalanan panjang yang berawal dari kebutuhan praktis, terutama dalam konteks militer dan perlindungan tubuh, jauh sebelum menjadi simbol gaya dan formalitas.

Asal-usul dasi dapat ditelusuri hingga penggunaan scarf atau syal pada peradaban kuno. Catatan sejarah menunjukkan bahwa penutup leher telah digunakan sejak ribuan tahun lalu di berbagai budaya, termasuk Mesir dan Tiongkok kuno. Ratu Nefertiti, sekitar 1350 SM, digambarkan mengenakan penutup kepala dan leher yang bersifat dekoratif sekaligus fungsional. Di sisi lain, para pekerja dan tentara juga menggunakan kain leher untuk melindungi diri dari panas, debu, atau udara dingin.

Di Tiongkok kuno, bentuk penutup leher bahkan menyerupai dasi. Patung pasukan Terakota di Xi’an, yang dibuat sekitar 200 SM untuk menemani Kaisar Qin Shi Huang di alam baka, memperlihatkan prajurit dengan kain terikat di leher. Aksesori tersebut diyakini berfungsi sebagai penanda pangkat militer. Meski demikian, bentuk neckwear seperti ini tidak banyak ditemukan dalam catatan lain pada periode yang sama.

Perkembangan penting yang mengarah langsung pada dasi modern terjadi di Eropa pada abad ke-17. Dalam Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648), tentara bayaran Kroasia yang bertempur untuk Raja Prancis Louis XIII mengenakan kain leher berwarna cerah yang diikat di bagian depan. Kain ini lebih praktis dan nyaman dibanding kerah kaku bergelombang (ruff) yang populer di kalangan bangsawan Eropa saat itu. Menurut

hespokestyle.com, gaya ini menarik perhatian masyarakat Prancis dan kemudian dikenal sebagai cravat, yang diyakini berasal dari kata “Croat” atau “orang Kroasia”.Popularitas cravat meningkat pesat, terutama ketika Raja Louis XIV menjadikannya bagian dari busana sehari-hari bangsawan istana. Sebagai penentu tren mode Eropa kala itu, pilihan sang raja diikuti oleh kaum elite dan kemudian menyebar ke seluruh benua. Tren ini juga sampai ke Inggris melalui Raja Charles II, yang membawa gaya tersebut setelah kembali dari pengasingannya di Belanda.Memasuki abad ke-18, penggunaan kain leher menjadi sangat umum hingga jarang ditemui pria tanpa aksesori ini. Bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari linen, katun, sutra, hingga renda. Warna dan gaya sangat dipengaruhi oleh tokoh berpengaruh pada masanya. Ketika Napoleon Bonaparte mengenakan dasi putih, gaya tersebut langsung menjadi tren. Pada periode ini pula istilah “tie” mulai menggantikan sebutan cravat.Popularitas dasi melahirkan berbagai panduan khusus. Salah satunya adalah pamflet satir sekaligus panduan berjudul Neckclothitania yang terbit pada 1818, disusul buku The Art of Tying the Cravat karya H. Leblanc pada 1828 yang membahas teknik mengikat dasi secara serius. Hal ini menunjukkan bahwa dasi telah menjadi bagian penting dari identitas dan gaya pria pada masa itu.Revolusi Industri membawa perubahan besar dalam dunia busana pria. Urbanisasi dan berkembangnya industri tekstil membuat dasi lebih terjangkau bagi semua kalangan. Pada awal abad ke-20, bentuk dasi modern mulai terbentuk melalui inovasi Jesse Langdorf yang memperkenalkan pola potongan tiga bagian dengan sudut 45 derajat. Teknik ini memungkinkan dasi jatuh lebih rapi dan kembali ke bentuk semula setelah diikat.Selain sebagai aksesoris mode, dasi juga berfungsi sebagai penanda identitas kelompok. Klub olahraga, sekolah, hingga unit militer mulai menggunakan dasi dengan warna dan motif khusus. Tradisi ini diyakini bermula dari klub dayung Universitas Oxford pada pertengahan abad ke-19, sebelum diadopsi secara luas oleh institusi lain.Pada era modern, dasi memang tidak lagi memiliki fungsi praktis yang jelas, bahkan kerap dianggap merepotkan atau berisiko. Namun, hespokestyle.com menilai bahwa dasi tetap berperan penting sebagai elemen estetika yang memberi kesan rapi dan lengkap pada busana pria. Di tengah tren berpakaian kasual, dasi justru menjadi sarana untuk mengekspresikan kepribadian, selera, dan individualitas.Hingga kini, dasi hadir dalam beragam material, mulai dari sutra, wol, linen, katun, hingga rajutan. Variasi tekstur, warna, dan pola memungkinkan pemakainya tampil berbeda di tengah keseragaman. Meski masa depannya sulit diprediksi, dasi tetap bertahan sebagai simbol perpaduan antara sejarah, gaya, dan identitas dalam busana pria modern.

Rekomendasi Berita