Hipotermia Pendaki Gunung Dipicu Faktor Fisik dan Kesiapan

RRI.CO.ID, Jakarta: Hipotermia pada pendaki gunung dipicu berbagai faktor terutama kondisi fisik lemah serta minim kesiapan menghadapi cuaca dingin ekstrem. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PBFMI), Dr. Muhammad Iqbal El Mubarok.

"Banyak faktor sebenarnya, faktor yang pertama itu dari kekuatan fisik. Apabila seorang petualang tersebut tidak terlatih, maka tidak terbiasa dengan kondisi cuaca dingin di gunung," ucapanya dalam wawancara bersama RRI PRO 3, Senin, 19 Januari 2026.

Sebelumnya, seorang pendaki gunung, Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan meninggal dunia saat melakukan pendakian di Gunung Slamet. Sesaat ditemukan meninggal dunia, Ali sempat dilaporkan menghilang di Gunung Slamet, Jawa Tengah pada bulan Desember 2025.

Ali diduga alami hipotermia saat melakukan pendakian di Gunung Slamet. Diketahui, Gunung Slamet dikenal memiliki karakter cuaca yang ekstrem.

Ia menjelaskan, bahwa Gunung Slamet didesain bukan untuk digunakan untuk para pendaki pemula. "Karena kalau mau mendaki Gunung Slamet harus memiliki pengalaman sepuluh kali mendaki gunung," katanya, menegaskan.

Ia menambahkan, bahwa semakin tinggi gunung maka semakin besar anginnya, sehingga tingkat suhu udara pun jauh lebih dingin. "Pendaki yang berlama-lama diatas gunung dengan cuaca ekstrem pun membuat metabolisme menjadi menurun," ucapnya.

Dokter emergency dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro pun demikian. Ia mengatakan bahwa hipotermia merupakan kondisi ekstrem yakni suhu tubuh seseorang menurun hingga berada di bawah normal.

Menurutnya, jika suhu tubuh seseorang menurun hingga 34 derajat Celsius, maka akan menyebabkan adanya gangguan di metabolisme. "Jika suhu tubuh rendah maka metabolisme tubuh akan berhenti dan menyebabkan kematian," ujarnya.

Rekomendasi Berita