FOMO Pengaruhi Tren Coffee Shop di Kota Kupang

KBRN, Kupang: Meningkatnya jumlah kafe di Kota Kupang tidak terlepas dari pengaruh media sosial, terutama tren fear of missing out. Akademisi Unika Widya Mandira Hedwigh Lejap mengatakan fenomena tersebut cenderung mendorong anak muda untuk terlibat dan ingin tampil eksis.

“Saya rasa pengaruh utamanya dari media sosial apalagi tren FOMO. Jadi kalau ada kafe satu di mana buka, mereka datang ke sana foto-foto mungkin seperti itu upload ke media sosial, Pasar melihatnya sebagai potensi, sehingga semakin banyak kafe yang dibuka,” kata Ketua Program Studi Manajemen FEB Unika Widya Mandira, Hedwigh Lejap kepada RRI Kupang, Senin.

Industri kuliner berupa tempat makan, kafe, dan restoran di Kota Kupang mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa waktu terakhir. Maraknya usaha tersebut dipengaruhi oleh potensi ekonomi kreatif serta perubahan gaya hidup masyarakat, khususnya kalangan anak muda.

“Kalau lihat secara umum, Kupang ini potensinya lebih banyak kearah ekonomi kreatif. Kita lihat beberapa kecamatan itu banyak sekali tempat makan, restaurant, salah satunya di Oebobo tercatat ada 400 tempat makan,” ucap Hedwigh Lejap.

Menurut Hedwigh Lejap, tingginya minat generasi muda NTT untuk mengunjungi kafe dinilai sebagai peluang pasar oleh pelaku usaha. Hal ini mendorong munculnya kafe-kafe baru hampir di setiap sudut Kota Kupang, dengan harga yang relatif terjangkau bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Gaya hidup generasi muda untuk mencari hiburan seperti kafe yang tidak terlalu mahal. Saya lihat banyak kafe-kafe yang minumannya R5.000, R.000 di pinggir-pinggir jalan tapi nyaman seperti itu” ujar Hedwigh.

Selain itu, perilaku konsumtif juga menjadi faktor pendorong. Banyak anak muda mengunjungi kafe sebagai sarana hiburan, melepas stres, atau bentuk self-reward. Aktivitas tersebut tidak selalu dilakukan di kafe besar, tetapi juga di lapak-lapak kecil di pinggir jalan yang hanya menyediakan beberapa kursi, namun tetap ramai dikunjungi untuk bersantai dan berbincang.

Perkembangan industri kuliner ini sekaligus mencerminkan perubahan gaya hidup masyarakat Kota Kupang. Gaya hidup tersebut terbentuk dari minat dan lingkungan sosial, baik dari lingkungan sekitar maupun pengaruh media sosial, yang menjadikan aktivitas nongkrong di kafe sebagai bagian dari keseharian anak muda.


Rekomendasi Berita