Transformasi Pendidikan: Mengenal Pembelajaran Mendalam dalam Kurikulum Merdeka

KBRN, Kupang: Dunia pendidikan di Indonesia kini tengah mengalami pergeseran paradigma dari pola belajar konvensional menuju pendekatan yang lebih substantif. Pembelajaran mendalam (Deep Learning) hadir bukan sebagai kurikulum baru, melainkan sebuah strategi implementasi untuk memperkuat Kurikulum Merdeka yang sudah berjalan.

Fokus utamanya adalah mengubah kebiasaan belajar siswa yang sebelumnya hanya sekadar "hadir di sekolah" menjadi proses yang benar-benar bermakna dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Dalam wawancaranya bersama RRI Pro2 Kupang pada, Jumat (9/1/2025) Fasilitator Pembelajaran Mendalam Kota Kupang, Revaldy G. J. Sooai menjelaskan pendekatan pembelajaran ini mengusung prinsip BBM (Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan) untuk menciptakan ekosistem kelas yang lebih hidup.

Siswa diajak untuk sadar akan tujuan mereka belajar, memahami manfaat materi bagi masa depan, serta menjalaninya dalam suasana yang tidak kaku. Dengan tahapan 3M (Memahami, Mengaplikasikan, dan Merefleksikan), pembelajaran tidak lagi berhenti di tingkat kognitif atau sekadar menghafal teori, tetapi berlanjut hingga tahap penerapan nyata.

"Pembelajaran mendalam adalah pembelajaran yang bermakna, di mana siswa mampu menerapkan materi dalam kehidupan mereka sehari-hari serta memuliakan guru dan siswa dengan menghargai kebutuhan masing-masing dalam proses belajar," ucap Revaldy yang sekaligus Guru SMK Negeri 1 Kupang.

Menurutnya tantangan utama dalam implementasi ini terletak pada perubahan pola pikir atau

growth mindset dari para pendidik itu sendiri. Guru dituntut untuk tidak hanya mengejar ketuntasan materi atau sekadar menggugurkan kewajiban jam mengajar, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan teknologi digital dan membangun kemitraan.

Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan dunia industri menjadi kunci agar lulusan memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi (

High Order Thinking Skills) yang dibutuhkan pasar kerja. Di tingkat SMK, pembelajaran mendalam diwujudkan melalui sinkronisasi mata pelajaran dengan kebutuhan industri, seperti penggunaan bahasa asing yang dikhususkan untuk sektor pariwisata.

Siswa tidak hanya berpraktik di depan kelas, tetapi didorong untuk terjun langsung merasakan profesi yang sebenarnya melalui program guru tamu dan kerja sama dengan lembaga profesional. Hal ini terbukti mampu meningkatkan motivasi dan antusiasme siswa karena mereka melihat relevansi langsung antara sekolah dan dunia kerja.

"Hal yang paling dibutuhkan dari seorang guru adalah bagaimana dia mau beradaptasi pada perubahan, karena pola pikir bertumbuh ini akan sangat mempengaruhi cara kita mengelola kelas dan menghadirkan pembelajaran mendalam," kata Revaldi.

Melalui pendekatan ini, diharapkan tingkat literasi dan kemampuan berpikir kritis siswa Indonesia dapat meningkat secara signifikan menjelang bonus demografi 2035 dan Indonesia Emas 2045. Pendidikan tidak lagi hanya soal mendapatkan nilai di atas kertas, melainkan tentang mencetak generasi yang mampu bertahan dan memecahkan masalah kompleks di masa depan.

Perubahan kecil di dalam kelas hari ini adalah investasi besar bagi kemajuan bangsa di masa depan. (AK)

Rekomendasi Berita