Dapur A3, Kuliner Jadul yang Bertahan Sejak Pandemi
- by Wisnu
- Editor Miranti Rizky
- 6 Jan 2026
- Malang
KBRN, Malang: Pandemi COVID-19 menjadi titik balik bagi banyak pelaku usaha kecil. Salah satunya dirasakan Bu Try Karya, Owner Dapur A3, UMKM kuliner asal Sawojajar, Kota Malang, yang justru memulai usahanya di tengah keterbatasan tahun 2020 lalu.
Bu Try menceritakan, Dapur A3 lahir dari kebutuhan ekonomi keluarga saat pandemi melanda. Saat aktivitas kerja terhenti dan pendapatan menurun, ia memanfaatkan keahlian memasak untuk menghasilkan pemasukan dari rumah.
“Awalnya saya masak masakan rumahan Jawa, seperti urap, cumi, dan lauk-pauk. Tapi karena kondisi dan usia, akhirnya lebih fokus ke bubur sumsum, jenang grendul, dan manisan kolang-kaling,” ujarnya saat menjadi narasumber Jagongan UMKM di Pro 4 RRI Malang, Selasa (6/1/2026).
Dari berbagai produk yang dibuat, bubur sumsum justru menjadi menu andalan dan paling banyak diminati. Teksturnya yang lembut dan rasa gurih santan yang kuat membuat produk ini kerap dipesan untuk acara pengajian, selamatan, hingga kegiatan sekolah.
"Pernah dalam satu kesempatan, pesanan bubur sumsum Dapur A3 bahkan mencapai 200 porsi," kisahnya.
Meski hanya berjualan secara online dan pre-order, pesanan terus berdatangan melalui pelanggan lama dan rekomendasi dari mulut ke mulut. Bu Try Karya mengaku tidak aktif mempromosikan lewat media sosial, namun tetap menjaga kualitas dan konsistensi rasa agar pelanggan terus melakukan repeat order.
“Yang penting rasanya dijaga. Sekali orang kecewa, biasanya tidak pesan lagi,” tuturnya.
Di usia yang tidak lagi muda, Bu Try Karya tetap berupaya produktif tanpa memaksakan diri. Ia membatasi jumlah produksi agar kesehatan tetap terjaga, dengan dukungan penuh dari keluarga.
Ke depan, Ia memiliki harapan untuk mengembangkan bubur sumsum menjadi produk kering atau instan, agar bisa dinikmati oleh konsumen luar kota tanpa khawatir daya tahan makanan.
Melalui Jagongan UMKM, ia juga berpesan kepada para pelaku usaha yang baru merintis agar tidak mudah menyerah. Menurutnya, kunci bertahan adalah konsistensi, keberanian memperkenalkan produk, serta kesiapan menerima masukan dari pelanggan.
“Jangan putus asa. Produk harus dicoba, dikenalkan, dan rasanya dijaga. Insya Allah pelan-pelan akan dikenal,” pungkasnya.