Merajut Jadi Simbol "Self-Care" dan Fashion Gen Z
- by Milla Iqlima Al Farabi
- Editor Rio Perdana
- 15 Jan 2026
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Jika dulu kegiatan merajut identik dengan tumpukan wol di samping kursi goyang nenek, kini pemandangan tersebut bergeser ke kafe-kafe estetik dan sudut-sudut kamar yang Instagrammable. Merajut baik itu knitting maupun crochet resmi menjadi tren hobi paling "panas" di kalangan anak muda masa kini.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Di balik setiap tusukan jarum, ada perpaduan antara ekspresi diri, perlawanan terhadap fast fashion, dan upaya menjaga kesehatan mental.
Beberapa faktor kunci membuat hobi benang ini meledak di media sosial seperti TikTok dan Instagram:
• Terapi Anti-Burnout: Di tengah gempuran dunia digital yang serba cepat, merajut menawarkan slow living. Gerakan repetitif saat merajut terbukti secara ilmiah menurunkan tingkat stres dan kecemasan sebuah "meditasi visual" bagi mereka yang lelah dengan urusan kuliah atau kerja.
• Keunikan 1-of-1: Gen Z sangat menghargai orisinalitas. Dengan merajut sendiri, mereka bisa menciptakan balaclava, crop top, hingga tas botol minum yang tidak akan ditemukan di toko manapun.
• Kesadaran Lingkungan: Merajut adalah bentuk protes terhadap industri pakaian massal yang merusak lingkungan. Membuat baju sendiri berarti memahami proses, menghargai waktu, dan mengurangi limbah tekstil.
"Awalnya cuma iseng liat tutorial di TikTok karena bosan pas pandemi. Eh, sekarang malah keterusan. Ada rasa bangga banget pas pakai baju yang kita bikin sendiri dari nol," ujar Pipit (21), seorang mahasiswa komunikasi yang kini punya bisnis sampingan dari pesanan rajutan, Kamis (15/1/2026).
Banyak perajut muda yang akhirnya membuka small business dengan sistem pre-order. Karena pengerjaannya yang memakan waktu dan membutuhkan keahlian khusus, harga produk rajutan tangan (handmade) kini dihargai cukup tinggi di pasaran, membuktikan bahwa karya seni tradisional ini punya nilai ekonomi yang kuat.
Merajut bukan sekadar menarik benang dan membuat simpul. Ini adalah cara generasi muda merayakan kesabaran di dunia yang serba instan. Jadi, sudah siap menukar waktu scrolling media sosialmu dengan sepasang jarum rajut akhir pekan ini? Siapa tahu, karya ikonik berikutnya lahir dari jemarimu sendiri. (Yuanita)