Praktisi Usaha Didorong Terlibat Langsung dalam Pendidikan Kewirausahaan
- by Kholil Bisri
- Editor Hayatun Sofian
- 11 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Keterlibatan praktisi usaha dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat pendidikan kewirausahaan di sekolah dan perguruan tinggi. Pengalaman langsung dari pelaku usaha memberikan perspektif yang lebih realistis tentang dunia bisnis dibandingkan pembelajaran teoritis semata.
Owner Roti Sukses, Roti Gembong Mandalika, dan Megumi Roti Jepang, Lalu Moh Iqbal, menilai kolaborasi antara dunia pendidikan dan praktisi harus diperluas. Menurutnya, peserta didik membutuhkan gambaran nyata tentang proses membangun usaha sejak tahap paling dasar.
Iqbal mengungkapkan, selama ini dirinya aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan kewirausahaan. Termasuk menjadi pembicara di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan kampus.
Dalam kerja sama tersebut, keterlibatan praktisi tidak berhenti pada pemberian materi di kelas. Peserta didik diajak untuk langsung mempraktikkan proses produksi hingga penjualan.
“Di SMK, saya tidak hanya menyampaikan materi. Saya ajak mereka untuk praktek secara langsung,” kata Iqbal, Minggu (11/1/2026).
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut bertujuan agar peserta didik memahami bahwa wirausaha bukan sekadar konsep. Proses produksi, pemasaran, hingga menghadapi konsumen menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
Menurutnya, praktik langsung membuat peserta didik lebih cepat memahami tantangan usaha. Mereka belajar menghadapi pembeli yang beragam, termasuk ketika produk tidak langsung terjual.
“Ketika mereka turun ke lapangan, baru terasa bagaimana menawarkan produk dan bagaimana rasanya kalau dagangan tidak langsung laku,” ujarnya.
Iqbal menilai, pengalaman semacam itu penting untuk membentuk mental wirausaha sejak dini. Tanpa pengalaman langsung, peserta didik cenderung memiliki gambaran yang terlalu ideal tentang bisnis.
Ia juga mendorong agar pendidikan kewirausahaan tidak selalu mengarah pada usaha berskala besar. Justru, usaha sederhana dengan modal kecil dinilai lebih relevan untuk tahap awal pembelajaran.
“Saya arahkan mereka buat donat atau brownies. Alatnya sederhana, tapi mereka sudah bisa belajar bisnis,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut, menurutnya, membuat peserta didik lebih percaya diri. Mereka melihat bahwa berwirausaha tidak selalu membutuhkan modal besar atau peralatan rumit.
Iqbal menilai peran praktisi penting untuk mengubah paradigma peserta didik. Selama ini, pendidikan masih kerap mengarahkan lulusan untuk menjadi pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja.
“Sekarang peluang kerja semakin terbatas. Kalau mindset-nya tidak diubah, anak-anak akan tetap ragu untuk berbisnis,” katanya.
Ia menegaskan, pendidikan kewirausahaan idealnya tidak berhenti sebagai tugas akademik. Proses pembelajaran harus mendorong keberanian untuk mencoba dan mengambil keputusan.
Menurutnya, keterlibatan praktisi dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan realitas usaha. Peserta didik tidak hanya belajar dari keberhasilan, tetapi juga dari tantangan yang dihadapi pelaku usaha.
“Yang saya sampaikan ke mereka itu bukan hanya cerita sukses, tapi juga proses jatuh bangunnya,” tutup Iqbal.