Balai Bahasa Ungkap Kesenjangan Literasi Pelajar NTB
- by Kholil Bisri
- Editor Agoes Santhosa
- 12 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Intervensi literasi Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2025 mengungkap berbagai temuan lapangan. Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan membaca di sejumlah wilayah.
Program literasi yang dilakukan Balai Bahasa menyasar berbagai jenjang pendidikan. Intervensi dilakukan melalui kegiatan membaca terarah dan penyediaan bahan bacaan bermutu.
Dalam pelaksanaannya, Balai Bahasa menemukan fakta bahwa persoalan literasi tidak hanya terjadi di pendidikan dasar. Di jenjang pendidikan menengah, kemampuan membaca sebagian siswa masih memprihatinkan.
Beberapa siswa sekolah menengah pertama (SMP) bahkan sekolah menengah atas (SMA) ditemukan belum mampu membaca dengan lancar. Temuan ini menjadi perhatian serius karena tidak sesuai dengan tahapan perkembangan usia belajar.
Kepala Balai Bahasa NTB, Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd., menyebut temuan tersebut sebagai sinyal kuat adanya masalah struktural. Menurutnya, kondisi ini harus ditangani secara bersama.
“Kami menemukan fakta yang cukup memprihatinkan di lapangan. Masih ada siswa usia remaja yang kesulitan membaca. Ini bukan masalah individu, tetapi masalah sistem,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).
Ia menegaskan bahwa Balai Bahasa tidak dalam posisi mencari pihak yang harus disalahkan. Fokus utama adalah mencari solusi agar kondisi tersebut tidak terus berulang.
Balai Bahasa kemudian menyampaikan temuan lapangan tersebut ke berbagai forum. Pemerintah daerah, komunitas literasi, dan relawan pendidikan diajak untuk terlibat.
Dwi Pratiwi menilai kolaborasi menjadi kunci dalam menangani persoalan literasi. Tidak ada satu institusi yang mampu bekerja sendiri menyelesaikan masalah ini.
“Literasi adalah tanggung jawab bersama. Sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah harus bergerak bersama. Tanpa kolaborasi, hasilnya tidak akan maksimal,” tegasnya.
Intervensi literasi selama ini menunjukkan hasil positif di beberapa wilayah. Namun, kesenjangan antarwilayah masih menjadi tantangan besar.
Balai Bahasa melihat perlunya pemetaan wilayah secara lebih rinci. Pendekatan berbasis karakteristik daerah dinilai lebih efektif dalam meningkatkan literasi.
Ke depan, temuan lapangan akan dijadikan pijakan penyusunan program lanjutan. Balai Bahasa ingin intervensi yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Dengan membaca kondisi lapangan secara jujur, Balai Bahasa NTB berharap kebijakan literasi dapat lebih tepat sasaran. Langkah ini dinilai penting untuk menutup kesenjangan literasi antarwilayah.