Mindset dan Literasi Keuangan Jadi Fondasi Pendidikan Kewirausahaan
- by Kholil Bisri
- Editor Nasrudin
- 13 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Pendidikan kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memproduksi dan menjual barang, tetapi juga pembentukan pola pikir dan disiplin mengelola keuangan. Dua aspek ini dinilai menjadi fondasi penting agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.
Lalu Moh Iqbal, Owner Roti Sukses, Roti Gembong Mandalika, dan Megumi Roti Jepang, menilai banyak usaha rintisan berhenti di tengah jalan bukan karena produknya tidak diminati pasar. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada mindset dan pengelolaan keuangan yang belum tertata sejak awal.
Iqbal mengungkapkan bahwa pengalaman awal berjualan mengajarkannya pentingnya membedakan uang usaha dan uang pribadi. Kebiasaan tersebut ia pelajari secara bertahap sejak masih menjalani praktik kewirausahaan.
Dalam proses tersebut, ia mulai membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran meskipun dalam skala sederhana. Langkah itu menjadi dasar untuk memahami kondisi usaha secara riil.
“Dari awal saya biasakan memisahkan uang usaha dan uang pribadi. Kalau dicampur, kita tidak tahu usaha ini sebenarnya untung atau rugi,” ujar Iqbal, Selasa (13/1/2026).
Ia menilai kebiasaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari pendidikan kewirausahaan. Literasi keuangan dinilai sama pentingnya dengan kemampuan produksi dan pemasaran.
Menurutnya, banyak pelaku usaha pemula tergoda menggunakan keuntungan untuk kebutuhan pribadi. Padahal, pada tahap awal, keuntungan seharusnya diputar kembali untuk memperkuat usaha.
“Waktu masih kecil, keuntungan itu jangan dulu dipakai macam-macam. Saya lebih memilih memutarnya lagi untuk beli alat dan bahan,” katanya.
Iqbal menjelaskan bahwa pola pikir tersebut tidak terbentuk secara instan. Mindset disiplin dan sabar dibangun melalui proses mencoba, gagal, lalu memperbaiki.
Ia menilai pendidikan kewirausahaan perlu menanamkan pemahaman bahwa usaha adalah proses jangka panjang. Keberhasilan tidak datang dalam waktu singkat.
“Kalau mindset-nya mau cepat besar, biasanya tidak bertahan lama. Yang penting itu pelan-pelan tapi konsisten,” ungkapnya.
Selain itu, ia melihat masih banyak generasi muda yang ragu memulai usaha karena takut rugi. Ketakutan tersebut sering kali muncul karena belum memahami risiko secara rasional.
Melalui pendidikan kewirausahaan yang tepat, risiko dapat dipahami sebagai bagian dari perhitungan usaha. Peserta didik diajak memahami bahwa kerugian bisa dikelola jika keuangan tertata.
“Kalau keuangannya rapi, kita tahu batasnya. Jadi tidak asal jalan dan tidak asal takut,” ujarnya.
Iqbal menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk mindset tersebut. Pendidikan kewirausahaan idealnya tidak hanya mengajarkan cara menghasilkan uang, tetapi juga cara mengelolanya.
Menurutnya, ketika mindset dan literasi keuangan berjalan seimbang, wirausaha akan lebih siap menghadapi tantangan. Usaha tidak mudah goyah ketika menghadapi tekanan.
“Kalau dari awal sudah dibiasakan disiplin, usaha akan lebih kuat dan tahan lama,” pungkasnya.