Doom Scrolling: Bahaya Tersembunyi di Balik Layar
- by Syafitri Ahadyah
- Editor Muhammad Wahyu
- 14 Jan 2026
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Di era digital, kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu perilaku yang kini banyak disorot adalah doom scrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus mengonsumsi konten negatif seperti berita buruk, konflik, bencana, atau isu yang memicu kecemasan, terutama di media sosial.
Menurut data yang dikeluarkan Kemkomdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital), orang Indonesia menghabiskan 4,9 Hari* per minggu but menonton video pendek di media sosial, menempati posisi ke-5 setelah Nigeria, Filipina, Kenya, dan Thailand. Hal ini bukan kebiasaan sepele, tetapi dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan fungsi otak.
Apa Itu Doom Scrolling?
Doom scrolling adalah perilaku menggulir media sosial atau portal berita secara berlebihan dengan fokus pada informasi yang bersifat negatif. Tanpa disadari, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca konten yang membuat pikiran semakin lelah, cemas, dan sulit berpikir jernih.
Komdigi menjelaskan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk menerima rangsangan negatif secara terus-menerus. Ketika seseorang melakukan doom scrolling, otak berada dalam kondisi waspada berlebihan (overstimulation). Akibatnya, fungsi kognitif seperti konsentrasi, pengambilan keputusan, dan kemampuan berpikir kritis dapat menurun.
Paparan konten negatif yang berulang juga memicu stres kronis. Otak akan lebih fokus pada rasa takut dan kecemasan dibandingkan proses berpikir rasional. Inilah yang membuat seseorang merasa “penuh di kepala”, sulit fokus, mudah lelah, bahkan merasa tidak produktif meskipun tidak melakukan aktivitas fisik berat.
Dampak doom scrolling tidak hanya terasa sesaat. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan kecemasan dan rasa khawatir berlebihan, memicu stres dan gangguan suasana hati, menurunkan kualitas tidur, serta mengurangi kemampuan fokus dan daya ingat.
Sebagai langkah pencegahan, Komdigi mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media digital. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
1. Batasi waktu layar dengan mengatur durasi penggunaan media sosial.
2. Saring informasi dengan memilih sumber tepercaya dan menghindari konsumsi berita negatif secara berlebihan.
3. Sadari pola perilaku digital dengan berhenti sejenak ketika merasa lelah atau cemas.
4. Seimbangkan aktivitas dengan kegiatan offline seperti olahraga, membaca buku, duduk santai mengamati lingkungan, melukis, atau jalan kaki tanpa mendengarkan lagu atau podcast, dan berinteraksi langsung dengan orang lain.
5. Tingkatkan literasi digital agar lebih kritis terhadap konten yang dikonsumsi.
Doom scrolling adalah kebiasaan yang tampak sepele, tetapi berdampak besar pada cara kerja otak dan kesehatan mental. Seperti yang ditekankan Komdigi, masyarakat perlu lebih sadar bahwa kesehatan digital sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kelola konsumsi informasi secara bijak, akan membuat otak dapat bekerja lebih optimal, pikiran menjadi lebih jernih, dan kualitas hidup pun meningkat di tengah derasnya arus informasi digital.