Seni Ukir Tradisi Bernilai Ekonomi di Era Modern

KBRN, Palangka Raya: Seni ukir hingga kini masih menjadi produk kriya yang memiliki daya tarik tersendiri di mata masyarakat. Keindahan detail, makna simbolik, dan sentuhan tangan pengrajin membuat seni ukir memiliki nilai ekonomi yang terus bertahan.



Pengrajin kriya, Abdullah Gampang, mengatakan seni ukir pada dasarnya memiliki potensi nilai tambah seperti seni lainnya. Selain produk ukir bernuansa budaya, banyak masyarakat juga tertarik memesan ukiran dengan model tersendiri yang unik dan sesuai selera pribadi.

"Apalagi sekarang lebih berkembang lagi ke arah budaya, talawang, batang garing, dan hiasan-hiasan seperti figura, seperti furniture, dan lain-lain itu. Orang itu cenderung ingin mempunyai model yang tersendiri kadang-kadang tanpa diikuti orang lain," katanya saat mengisi program UMKM Bicara di Pro 1 RRI Palangka Raya, Senin (12/1/2026).

Ia menambahkan, pengrajin kriya saat ini juga perlu mengikuti perkembangan teknologi agar produknya tetap relevan. Pemanfaatan teknologi dinilai penting untuk memperluas jangkauan pasar dan mengenalkan produk ke masyarakat yang lebih luas.

"Kalau untuk modern itu pasti kami juga harus mengikuti seperti Facebook, WhatsApp, dan lain-lain itu, mau tidak mau. Tentunya produk kita tanpa adanya pemasaran seperti itu juga kadang-kadang kurang dikenal di daerah-daerah yang sangat jauh misalnya," katanya.

Perpaduan antara nilai tradisi dan pendekatan modern menjadi kunci agar seni ukir tetap diminati. Identitas budaya tetap dijaga, sementara cara pemasaran disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dengan strategi tersebut, seni ukir tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu bersaing di industri kreatif. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan seiring dan saling menguatkan.

Rekomendasi Berita