Cara UMKM Pempek Tetap Bertahan di Pasar Digital

RRI.CO.ID, Palembang - Wajah kuliner khas Palembang, pempek, kini tak lagi sekadar makanan lokal yang dijajakan di pinggir jalan. Di tangan pelaku UMKM yang melek teknologi, kudapan ikan ini telah bertransformasi menjadi komoditas digital yang merambah pasar internasional.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan ketatnya persaingan sekaligus besarnya peluang di era ini adalah Rhini, pemilik Pempek Mbak Ghina. Dalam dialog program UMKM Bicara di RRI Palembang, Senin 12 Januari 2026, ia membedah perbedaan mencolok antara pola dagang konvensional dan digital.

Menurut Rhini, berjualan di masa sekarang menuntut stamina kreatif yang lebih tinggi. “Jualan zaman sekarang dengan zaman dulu itu berbeda. Sekarang pelaku usaha harus lebih aktif dan konsisten dalam menjalankan penjualan secara online,” ungkapnya.

Baginya, digitalisasi bukan sekadar memindahkan lapak ke media sosial, melainkan tentang membangun kepercayaan konsumen melalui konsistensi konten dan kecepatan respons. Namun, transisi ke dunia digital bukan tanpa hambatan. Saat permintaan mulai membeludak, tantangan nyata justru muncul dari sisi internal: manajemen Sumber Daya Manusia (SDM).

Rhini menceritakan bagaimana ia harus menjaga ritme produksi di tengah keterbatasan tenaga kerja. Apalagi, ia juga menjalani profesi sebagai tenaga pendidik. Pembagian waktu antara ruang kelas dan dapur produksi menjadi seni tersendiri yang harus ia kuasai setiap hari.

“Ketika pesanan sedang banyak, kita harus tetap konsisten. Saya juga mengajar, dan usaha ini tidak bisa dilepas begitu saja karena pengelolaan SDM masih terbatas,” jelas Rhini.

Demi menjaga standar rasa dan kualitas, Rhini memilih untuk terjun langsung mengawasi setiap tahapan. Mulai dari pemilihan bahan baku untuk pempek adaan dan pempek tahu, hingga proses pengemasan sebelum dikirim ke pelanggan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap butir pempek yang sampai ke tangan konsumen tetap membawa cita rasa otentik Palembang.


Rekomendasi Berita