Kopi dan Rutinitas Anak Muda

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Buat banyak orang usia 20 hingga 40 tahun, kopi bukan cuma ngusir ngantuk. Kopi sudah naik level menjadi teman kerja, bahan obrolan, hingga simbol gaya hidup. Dari yang awalnya Cuma “ngopi biar melek”, sekarang kopi bisa menjadi alasan nongkrong, konten media sosial, bahkan lading cuan.

Di Indonesia sendiri, budaya kopi berkembang pesat, dikutip dari situs katadata.co.id, membahas bagaimana kopi bukan lagi minuman orang tua, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharin generasi muda dan profesional.

Kopi Indonesia seperti Gayo, Toraja,Kintamani dan Lampung sudah dikenal sampai ke luar negeri. Tapi menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, konsumsi kopi dalam negeri juga ikut melonjak, dulu ngopi identic dengan kopi tubruk atau warung kopi sederhana. Sekarang pilihan makin beragam, ada kopi susu gula aren, Americano, latte, cold brew, hingga manual brew seperti v60 dan French Press. Semua ini menunjukkan satu hal yaitu, selera ngopi masyarakat Indonesia makin naik kelas, tetapi tetap membumi.

Rentang usia 20 – 40 tahun biasanya lagi sibuk – sibuknya, kuliah, kerja, bangun karier, atau bahkan ngurus bisnis sendiri. Kopi hadir sebagai “penolong” di tengah jadwal padat. Ada beberapa alasan kopi menjadi favorit, antara lain seperti bikin fokus, karena kandungan kafein membantu konsenstrasi, lalu fleksibel, dikarenakan bisa dinikmati baik pagi, sore bahkan malam. Katadata.co.id juga mencatat, menjamurnya kedai kopi lokal bukan cuma soal minuman, tapi juga soal ruang diskusi dan kerja informal.

Kalau dulu kerja harus dikantor, sekarang banyak yang nyaman kerja dari coffeeshop. Terutama sejak tren kerja fleksibel makin populer. Kedai kopi sekarang bukan cuma jual minuman, tetapi juga, Wifi kencang, stop kontak dimana mana, musik santai, hingga interior estetik buat foto, Makanya kopi dan produktivitas jadi psangan serasi. Sambil ngetik laptop, tangan pegang latte, dan kepala mutar cari ide.

Di era instagram dan tiktok, kopi juga dinilai dari tampilannya. Gelas bening, Latte art, meja kayu serta cahaya matahari, semua bisa jadi konten. Banyak juga media di Indonesia menoroti kopi menjadi bagian dari branding diri. Nongkrong di Coffee shop tertentu kadang dianggap mencerminkan selera, gaya hidup, bahkan “kelas sosial”. Mau disadari atau tidak, kopi sekarang juga punya nilai simbolik.

Menariknya, meski minuman kekinian bermunculan, kopi lokal tetap punya tempat di hati. Kopi tubruk hitam tanpa gula, atau kopi sachet masih setia menemani banyak orang. Budaya kopi di Indonesia itu inklusif, mau sederhana ada, mau fancy pun juga ada. Intinya bukan di mahal atau murahmya, tetapi momen menikmati kopinya.

Walau kopi punya banyak penggemar, media kesehatan di Indonesia juga sering mengingatkan soal batas konsumsi. Kebanyakan kafein bisa bikin jantung berdebar, susah tidur, dan juga menyebabkan asam lambung naik. Idealnua, 2 – 3 cangkir per hari sudah cukup. Apalagi buat yang kerja seharian di depan laya, jangan sampai kopi jadi solusi instan tanpa diimbangi istirahat.

Buat kamu usia 20 – 40 tahun yang punya jiwa entrepreneur, kopi juga bisa dilihat sebagai peluang. Dari gerobak kopi kecil sampai coffeeshop estetik, bisnis kopi terus tumbuh. Katadata.co.id juga mencatat, UMKM kopi menjadi salah satu sector yang paling adaptif terhadap tren digital dan layanan pesan antar. Ini juga sebagai bukti bahwa kopi bukan Cuma diminum, tetapi juga dipikirkan dan dikembangkan.

Kopi bukan Cuma tentang rasa pahit atau manis. Kopi adalah soal cerita sebelum kerja, cerita lembur tengah malam, cerita obrolan ringan bareng teman, serta cerita ide yang tiba – tiba muncul, jadi, engga heran kalau kopi tetap bertahan lintas generasi. Selama masih ada orang yang butuh jeda,ngobrol dan inspirasi, kopi akan selalu punya tempat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita