Filosofi Dibalik Jeruk Purut

RRI.CO.ID, Pekanbaru - Jeruk purut dikenal luas sebagai bahan pelengkap masakan dan ramuan tradisional. Daunnya yang harum sering digunakan untuk memperkaya cita rasa, sementara buahnya dimanfaatkan dalam perawatan tubuh.

Di balik kegunaannya, jeruk purut juga menyimpan filosofi yang hidup dalam budaya masyarakat Nusantara. Disadur dari Dalimartha, S. Tanaman Obat dan Tradisi Herbal Indonesia. Jakarta: Penebar Swadaya, dalam kehidupan tradisional, jeruk purut melambangkan kesucian dan pembersihan.

Aroma segarnya dipercaya mampu menghilangkan energi negatif. Oleh karena itu, jeruk purut kerap digunakan dalam ritual adat, seperti mandi bunga atau upacara penyucian diri, sebagai simbol membersihkan lahir dan batin.

Bentuk buah jeruk purut yang berkulit kasar juga mengandung makna tersendiri. Kulit yang tidak mulus menggambarkan perjalanan hidup manusia yang penuh tantangan. Namun, di balik kulitnya yang kasar, jeruk purut menyimpan aroma dan manfaat yang berharga, seolah mengajarkan kebaikan sering tersembunyi di balik kesederhanaan.

Daun jeruk purut yang kecil tetapi kuat aromanya melambangkan kehadiran yang memberi dampak. Meski ukurannya tidak besar, perannya sangat penting dalam masakan dan tradisi. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap orang, sekecil apa pun perannya, tetap memiliki arti dalam kehidupan bersama.

Filosofi jeruk purut mengajak manusia untuk hidup bersih, rendah hati, dan memberi manfaat bagi sekitar. Dengan memahami makna di balik tanaman ini, masyarakat tidak hanya memanfaatkannya secara fisik, tetapi juga menghargainya sebagai simbol kearifan lokal yang patut dilestarikan.

Rekomendasi Berita