"Northsea" Hidupkan Kembali Alternatif Rock di Pontianak
- by Budiman
- Editor Boyke Sinurat
- 18 Jan 2026
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Pontianak kembali diramaikan oleh geliat musik alternatif lewat kehadiran "Northsea". Band yang lahir dari kerinduan akan panggung underground dan semangat lama era festival pelajar.
Band ini digawangi Sinyoe bersama Sabur dan Doni yang awalnya hanya ingin nge-jam membawakan lagu-lagu post-hardcore dan metalcore di studio kecil mereka.
“Northsea tuh awalnya nggak ada planning sama sekali. Kita cuma ngumpul bertiga, pengen ngejam dan main underground lagi karena udah lama nggak manggung,” ujar Sinyoe saat berbagi cerita perjalanan bandnya di Program Musickpreneur Pro2, Jum'at, 16 Januari 2026.
Di hadapan Penyiar Dipa, lanjut Sinyoe, Formasi kemudian lengkap setelah bergabungnya Poches dan Apui, menjadikan Northsea sebagai proyek serius yang tak lagi sekadar nostalgia, tetapi juga wadah eksplorasi musikal dengan warna alternatif modern.
Setelah hampir satu dekade vakum dari dunia band, Sinyoe mengaku Northsea menjadi momentum kembalinya ia ke musik. “Terakhir main itu Record Store Day 2016. Setelah itu gitar sempat nggak kepegang lama banget,” katanya.
Dua single telah resmi dirilis, yakni
Nayanika dan Niskala, yang langsung mendapat respons positif dari pendengar lokal serta diperkuat dengan strategi konten digital dan rilisan merchandise yang cepat terjual. “Alhamdulillah merchandise Northsea langsung habis. Itu lumayan banget buat bantu biaya produksi,” katanya, menambahkan.Kehadiran Northsea menjadi penanda bahwa musik alternatif rock Pontianak belum mati, hanya sempat tenggelam dan kini muncul kembali dengan pendekatan baru yang memadukan semangat lama dan kekuatan era digital.
Di era sekarang, skena alternatif tak lagi bergantung pada label besar atau rilisan fisik. Distribusi lagu berpindah ke streaming, sementara promosi berpacu dengan algoritma media sosial yang menentukan cepat-lambatnya karya dikenal publik.
Fenomena ini juga dirasakan Sinyoe, yang menyebut tantangan bermusik saat ini bukan hanya soal kualitas lagu. “Sekarang musisi itu bukan cuma bikin lagu bagus, tapi juga harus melawan algoritma,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan alternatif rock saat ini lebih cair karena semua orang bisa merekam dan merilis karya dari rumah. Namun di sisi lain, persaingan semakin padat karena ruang digital membuat band baru bermunculan tanpa batas wilayah.
Northsea sendiri lahir dari semangat lama yang dibawa ke pendekatan baru. “Dulu kita main festival sekolah, sekarang mainnya harus kuat di konten juga supaya orang notice,” kata Sinyoe.
Kehadiran Northsea sekaligus mencerminkan wajah baru alternatif rock di era digital, dan tidak lagi sekadar soal musik keras dan komunitas gigs, tetapi juga kreativitas visual, branding, serta kemampuan bertahan di tengah arus cepat industri berbasis internet.
Baca juga:
Rendy “Circafaith” Bahas Musik dan Kreativitas