RRI.CO.ID, Samarinda – Syafara Yanita Nur Maulidah, seorang mahasiswi tingkat akhir sekaligus pelaku UMKM asal Samarinda, sukses menghidupkan kembali resep keluarga melalui jenama "Warisan Nenek". Berawal dari kelas 1 SMK pada tahun 2019, Syafa mengubah resep turun-temurun dari usaha katering milik neneknya menjadi produk camilan modern yang kini menjangkau berbagai kota di Kalimantan Timur.
Produk unggulan "Warisan Nenek" adalah Kentang Mustofa, sebuah hidangan pendamping nasi yang kini telah dimodifikasi dengan berbagai varian rasa seperti pedas daun jeruk. Syafa menjelaskan, pemilihan nama brand tersebut didasari oleh keinginan untuk menghargai warisan resep yang diajarkan langsung oleh sang nenek kepada dirinya yang juga merupakan lulusan tata boga.
"Warisan nenek itu suatu nama yang unik dan memang cocok untuk brand saya, karena menu-menu ini pun resepnya turunan dari nenek yang saya modifikasi sedikit," ujar Syafa dalam sesi bincang Teras UMKM di RRI Pro4 Samarinda.
Sebagai pengusaha muda dari generasi Z, Syafa menghadapi tantangan besar dalam membagi waktu antara menyelesaikan skripsi dan mengelola pesanan yang terus meningkat.
Meskipun sempat mengalami masa sulit hingga tidak menyentuh skripsi selama enam bulan karena tekanan mental dan masalah pribadi, ia berhasil bangkit dengan melakukan inovasi pada kemasan produknya, beralih dari plastik biasa ke toples yang lebih praktis bagi pelanggan kantoran dan mahasiswa.
Syafa juga menekankan pentingnya menjaga kualitas meski harga bahan baku sering fluktuatif, terutama menjelang bulan Ramadan. Dibandingkan mengurangi kualitas rasa atau menaikkan harga secara drastis, ia lebih memilih melakukan penyesuaian pada ukuran kemasan agar produk tetap terjangkau oleh pelanggan setianya.
Strategi pemasaran "Warisan Nenek" sangat mengandalkan kekuatan media sosial, yang menurut Syafa berkontribusi hingga 85 persen terhadap penjualan. Ia aktif menjalin relasi dengan reseller di Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, hingga Bontang untuk memperluas jangkauan pasar tanpa rasa gengsi untuk menawarkan produknya secara langsung.
"Kalau saya tidak duluan menawarkan produksi ini, orang-orang tidak akan tahu kalau saya jualan," ujarnya menekankan pentingnya keberanian dalam berbisnis.
Ke depannya, Syafa berencana untuk terus menambah varian produk seperti bolu gulung dan kue kering, serta memiliki impian besar untuk membuka toko fisik (
offline) sendiri. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkannya menjadi bukti bahwa warisan tradisional dapat tetap eksis dan bersaing di pasar modern jika dikelola dengan inovasi dan ketekunan.