Bitcoin Menguat, Sempat Tembus Level $97.000

RRI.CO.ID, Semarang - Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level $97.000. Sebelumnya terkoreksi tipis ke level US$95.000–US$96.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat Desember 2025 yang cenderung sesuai dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), inflasi AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara inflasi inti (core inflation rate) tetap terkendali dilevel 0,2% m/m dan 2,6% y/y.

Kenaikan inflasi tersebut terutama didorong oleh sektor perumahan (shelter) yang naik 0,4% m/m. Dalam kondisi inflasi yang relatif stabil dan terkendali, bank sentral (The Federal Reserve) umumnya memiliki ruang untuk mempertahankan.

Dalam kondisi tertentu menurunkan, suku bunga guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Menanggapi data tersebut, Vice President INDODAX, Antony Kusuma melalui press releasenya (17/1/2026) mengatakan, stabilnya inflasi memberi ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih leluasa setelah periode konsolidasi yang cukup panjang.

Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. “Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya. Penguatan Bitcoin juga terjadi di tengah aksi pembelian oleh institusi besar.

Strategy Inc. mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$1 miliar diawal 2026, yang menjadi pembelian terbesarnya sejak pertengahan 2025. Langkah tersebut memperkuat posisinya sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberi dorongan sentimen pasar. Meski permintaan ritel global masih cenderung terbatas.

Konsistensi akumulasi oleh institusi besar memperkuat pandangan bahwa Bitcoin semakin dipandang sebagai aset dengan fundamental yang kuat, Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. “Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” ujarnya.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan dalam periode yang sama. Ethereum, Solana, dan beberapa altcoin besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah tekanan makro mereda. (Rel/Dars).

Rekomendasi Berita