RRI.CO.ID, Sintang – Lagu-lagu bernuansa fantasy vibes yang ramai digunakan di media sosial tidak dipilih secara kebetulan. Setiap lagu memiliki karakter, emosi, dan cerita yang membuatnya sesuai digunakan pada momen tertentu. Musik menjadi elemen penting dalam memperkuat pesan visual sekaligus membangun suasana yang ingin disampaikan.
Dalam perkembangan media digital, musik tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap semata. Ia telah menjadi bagian dari narasi visual yang mampu membangkitkan emosi, menghadirkan ingatan, serta menciptakan pengalaman menonton yang lebih mendalam. Perpaduan antara suara dan visual ini kerap disebut sebagai sinestesia digital.
Salah satu lagu yang sering digunakan adalah Graze the Roof (Slowed). Versi slowed & reverb dari soundtrack gim ini menghadirkan nuansa tenang dan hening. Irama yang melambat menciptakan kesan waktu yang berjalan perlahan, sehingga kerap dimanfaatkan untuk konten reflektif, pemandangan alam, atau momen menyendiri yang bersifat kontemplatif.
Lagu Golden Brown karya The Stranglers menghadirkan nuansa klasik dengan sentuhan misterius. Dentuman harpsichord yang khas memberi kesan nostalgia sekaligus menyimpan sisi gelap yang halus. Lagu ini banyak digunakan untuk konten bernuansa vintage, perjalanan hidup, atau visual dengan palet warna hangat.
Sementara itu, La Maritza dari Sylvie Vartan dikenal memiliki kekuatan emosional yang kuat. Lagu klasik ini menggambarkan keterikatan pada masa lalu dan kenangan akan rumah. Nuansanya yang melankolis membuatnya cocok digunakan untuk konten personal, kisah pulang kampung, atau ungkapan kerinduan terhadap seseorang maupun tempat yang bermakna.
Nuansa berbeda ditampilkan dalam Love Story milik Indila. Lagu ini menghadirkan romansa yang reflektif dan penuh perasaan. Love Story kerap digunakan untuk menggambarkan hubungan yang memiliki kedalaman emosi, perjalanan hidup yang penuh perjuangan, serta makna kasih sayang yang tidak selalu tampil secara ideal.
Adapun Carol of the Bells menghadirkan suasana magis dan dramatis melalui irama yang repetitif dan intens. Lagu ini sering dikaitkan dengan nuansa fantasi gelap dan estetika dark academia, sehingga efektif digunakan pada momen klimaks, transisi visual artistik, atau konten yang menonjolkan kemegahan seni dan arsitektur.
Fenomena penggunaan lagu fantasy vibes menunjukkan bahwa musik telah berkembang menjadi sarana komunikasi emosional di ruang digital. Musik tidak hanya memperkuat visual, tetapi juga membantu menyampaikan pesan secara lebih efektif tanpa harus menggunakan banyak kata.
Referensi:
https://www.idntimes.com/hype/entertainment/9-playlist-lagu-nuansa-fantasi-dan-kerajaan-vibesnya-bikin-merinding-01-r5z4m-b2j5gg