Komunitas Kain Kebaya Indonesia Dorong UMKM Perempuan Mandiri

  • by
  • Editor Benny Hermawan
  • 18 Jan 2026
  • Surabaya

RRI.CO.iD, Surabaya: Koordinator UMKM Kain Kebaya Indonesia, Wahyu Ida Rochayati (16/01/2026), terus memperkuat eksistensi perempuan melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis budaya di Surabaya.

Upaya ini menggabungkan misi pelestarian busana tradisional kebaya dengan penguatan kemandirian ekonomi bagi ribuan anggotanya. Kehadiran komunitas ini bertujuan agar perempuan Indonesia tetap memiliki jati diri yang kuat di tengah gempuran tren budaya luar.

Komunitas yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade ini memiliki visi agar identitas bangsa tidak tergerus zaman atau diklaim oleh pihak asing. Melalui struktur koordinasi yang menjangkau hingga tingkat kecamata.

Ida memastikan setiap perempuan bangga mengenakan kebaya dan jarik dalam keseharian. Baginya, menjaga budaya adalah tanggung jawab bersama agar generasi mendatang tidak kehilangan akar tradisinya.

"Mau gemuk, mau kurus, mau hitam, mau putih, kalau pakai kebaya itu anggun," ujar Ida saat menjelaskan filosofi keanggunan busana tersebut, Munggu (18/1/2026).

Ia menekankan bahwa kebaya memberikan kesan

jinem atau miyayeni yang membuat pemakainya tampak pantas dan dihormati. Hal inilah yang membuat anggota komunitas merasa percaya diri untuk membawa budaya Indonesia ke mana pun mereka pergi.

Namun, fokus perjuangan Ida tidak berhenti pada aspek estetika semata, melainkan juga menyentuh masalah krusial dalam dunia usaha. Ida mengidentifikasi bahwa hambatan utama pelaku UMKM adalah kemampuan memproduksi barang yang sering kali tidak dibarengi dengan keahlian pemasaran.

Banyak perempuan memiliki keterampilan luar biasa, namun bingung bagaimana cara menjual produk mereka secara efektif. Untuk mengatasi tantangan tersebut, komunitas ini melakukan pendampingan intensif mulai dari pengurusan legalitas seperti Nomor Induk Berusaha (NIB).

Legalitas ini menjadi pintu masuk bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan sertifikasi Halal, SNI, hingga PIRT. Dengan dokumen resmi, produk UMKM diharapkan memiliki standar yang jelas dan kepercayaan konsumen yang lebih tinggi.

Transformasi digital juga menjadi agenda utama dengan melatih para ibu untuk terampil berjualan di berbagai platform niaga elektronik dan media sosial. "Di TikTok, apalagi diajari untuk nge-live, kalau anak sekarang sudah biasa, tapi orang seperti saya ya bingung," tuturnya

Mengenai tantangan adaptasi teknologi. Meski sulit, pendampingan ini terus dilakukan agar produk lokal mampu bersaing di pasar digital yang dinamis.

Aspek manajemen keuangan turut menjadi perhatian serius guna mencegah kondisi keuangan yang tercampur antara urusan rumah tangga dan modal usaha. Ida menekankan pentingnya pemisahan rekening dan pembukuan yang rapi agar pelaku usaha tidak merasa sia-sia setelah bekerja keras.

Dengan estimasi anggota mencapai lebih dari 10.000 orang di Surabaya, Ida optimis bahwa perempuan adalah pilar tangguh ekonomi keluarga..

Rekomendasi Berita