Burung Tidur Setengah Otak saat Terbang

KBRN, Tanjungpinang: Beberapa spesies burung mampu tidur dengan satu belahan otak tetap aktif menjaga keseimbangan navigasi selama penerbangan jarak jauh. Fenomena ini disebut unihemispheric slow wave sleep dan memungkinkan burung menghemat energi tanpa kehilangan kewaspadaan terhadap predator alami.

Penelitian Universitas Stanford, mengamati burung laut mampu menutup satu mata sambil mempertahankan kontrol arah terbang stabil selama migrasi. Mata yang terbuka terhubung dengan belahan otak aktif memantau lingkungan mendeteksi ancaman secara kontinu selama perjalanan panjang malam.

Studi jurnal Nature Communications, menunjukkan aktivitas gelombang lambat terjadi bergantian antara hemisfer otak burung saat fase istirahat singkat. Pola ini membantu menjaga fungsi kognitif sekaligus memungkinkan respons cepat terhadap perubahan angin arah mendadak selama penerbangan malam.

Burung albatros diketahui dapat terbang berhari hari melintasi samudra sambil memanfaatkan tidur setengah otak demi efisiensi energi maksimal. Strategi ini mengurangi kebutuhan berhenti mendarat sehingga migrasi panjang menjadi lebih aman efektif dari gangguan cuaca ekstrem tiba.

Para ilmuwan menyebut mekanisme ini sebagai adaptasi evolusioner menghadapi tekanan lingkungan keterbatasan tempat istirahat alami pada habitat terbuka. Burung darat tertentu juga menunjukkan pola serupa saat waspada terhadap predator di lokasi terbuka pada malam hari tertentu.

Riset Max Planck Institute, mengungkap aktivitas neuron tetap stabil meski separuh otak memasuki fase tidur ringan sementara terkontrol. Kondisi ini menjaga keseimbangan hormonal metabolisme serta koordinasi otot selama aktivitas terbang berkepanjangan dalam lintasan migrasi sangat jauh.

Penemuan ini menginspirasi riset manusia mengenai tidur efisien bagi profesi dengan tuntutan kewaspadaan tinggi, seperti, pilot astronot profesional. Pemahaman biologis burung membuka peluang inovasi kesehatan kerja keselamatan transportasi serta desain sistem otomatis adaptif berbasis neurosains modern.

Rekomendasi Berita