Soto Lenthuk Ayam Kampung yang Bertahan Sepuluh Tahun
- by Nur Imtihanna
- Editor Rini Rustriani Lesti Handayani
- 11 Jan 2026
- Yogyakarta
KBRN, Sleman: Warung Soto Lenthuk Ayam Kampung Mas Parman yang berada di sekitar Stadion Maguwoharjo masih konsisten melayani pelanggan sejak berdiri pada 2016. Usaha kuliner kaki lima ini menjadi salah satu pilihan sarapan dan makan siang masyarakat, mulai dari warga sekitar hingga mahasiswa dan wisatawan yang beraktivitas di kawasan Stadion.
Vina adik pemilik sekaligus penjaga warung, mengatakan dirinya bertugas memantau operasional ketika sang kakak berhalangan. Ia menjelaskan, usaha soto ini dirintis setelah sebelumnya sempat ikut bekerja dengan orang lain sebelum akhirnya memilih membuka usaha mandiri. “Awalnya ikut orang, lalu ada sedikit masalah, akhirnya memilih buka sendiri sampai bisa berkembang seperti sekarang,” ujarnya.
Menurut Vina, lokasi di dekat stadion menjadi faktor penting dalam perkembangan usaha. Aktivitas olahraga harian dan meningkatnya jumlah wisatawan membuat warung lebih ramai dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Sekarang alhamdulillah lebih rame, apalagi tempatnya strategis dekat stadion,” katanya.
Warung Soto Lenthuk Ayam Kampung Mas Parman mulai buka sejak pukul 06.00 hingga 14.00 WIB dan bisa diperpanjang jika dagangan masih tersedia. Jam operasional tersebut membuat warung ini kerap dijadikan pilihan sarapan maupun makan siang dengan harga yang terjangkau. Seporsi soto ayam kampung dibanderol Rp10.000, sementara minuman seperti es teh dan es jeruk dijual dengan harga Rp3.000 hingga Rp4.000.
Meski demikian, kondisi cuaca masih menjadi tantangan utama bagi penjualan harian. “Kalau hujan itu pengaruh sekali karena tempatnya di pinggir jalan dan konsepnya kaki lima,” ucapnya. Meski harga bahan baku mengalami sedikit perubahan selama satu dekade terakhir, Vina memastikan harga jual tetap stabil dan tidak dinaikkan demi menjaga pelanggan.
Selain soto ayam kampung sebagai menu utama, warung ini juga menyediakan beragam pelengkap seperti sate telur, sate usus, sate daging, serta tempe goreng kriuk. Tempe goreng dijual seharga Rp2.000 per potong, sementara berbagai sate-satean dibanderol Rp4.000 per tusuk. Pelanggan juga dapat menyesuaikan pesanan, mulai dari tanpa mi hingga menambah kulit ayam sesuai selera.
Salah satu pelanggan, Rangga Satria, mengaku kerap datang karena kelengkapan lauk yang masih tersedia hingga siang hari. “Di jam sebelas pun satenya masih lengkap, jadi nggak takut kehabisan. Itu yang bikin saya sering ke sini,” katanya. Ke depan, Vina berharap usahanya terus berkembang dan suatu saat bisa membuka cabang di lokasi yang lebih luas dan nyaman.