Sego Berkat Mbah Senik Bertahan Lewat Tradisi

RRI.CO.ID, Sleman - Usaha kuliner tradisional Sego Berkat Mbah Senik terus bertahan di tengah gempuran makanan modern. Dikelola oleh Suprihatin Budi Utami, penjual sego berkat ini mengandalkan resep turun-temurun yang telah memasuki generasi kelima. Berlokasi di kawasan Jenengan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, usaha ini dikenal tanpa papan nama besar, namun memiliki pelanggan setia.

Nama Mbah Senik dipilih bukan tanpa alasan. Suprihatin menuturkan, Mbah Senik merupakan pedagang legendaris di Semanu Gunungkidul pada masa lampau dan masih memiliki hubungan keluarga dengannya. Nama tersebut sengaja dipakai sebagai doa agar usahanya dapat berkembang besar seperti sang pendahulu. “Mbah Senik itu Mbah buyut saya, pedagang besar zaman dulu, jadi saya menjipak namanya supaya ikut besar,” katanya.

Sego berkat yang dijual memiliki ciri khas kuat, terutama pada konsep penyajian dan pembungkusannya. Nasi dicampur aneka lauk seperti oseng tempe, soun, telur, kikil, paru, hingga empal, lalu dibungkus daun jati asli. Pemilihan daun jati dianggap sebagai bagian dari tradisi lama yang tidak tergantikan. “Kalau pakai kertas rasanya kurang nikmat dan bukan tradisi dulu,” ujarnya.

Menu yang ditawarkan pun konsisten sejak awal berjualan dan tidak mengalami perubahan. Harga sego berkat dibanderol mulai Rp11.000 untuk nasi telur hingga Rp43.000 untuk paket lengkap berisi empal, paru, telur, kikil, dan lauk lainnya. Meski tanpa tempat makan, pembeli tetap ramai dan sebagian besar memilih dibungkus untuk dibawa pulang.

Dalam hal promosi, Suprihatin mengaku tidak mengandalkan media sosial secara khusus. Penjualan lebih banyak berkembang melalui rekomendasi dari mulut ke mulut serta layanan pemesanan daring. “Promosinya cuma dari orang ke orang, dari mulut ke mulut,” katanya. Selain pembelian langsung, pesanan juga datang dari luar kota bahkan luar provinsi.

Setiap hari, Sego Berkat Mbah Senik mampu menjual lebih dari 100 hingga mendekati 200 porsi dalam satu kali produksi. Usaha yang telah berjalan sekitar tiga tahun ini buka sejak pukul 06.00 hingga 14.00 WIB, namun sering kali habis sebelum jam tutup. Jika dagangan telah ludes, Suprihatin memilih menutup penjualan dan tidak memasak ulang.

Meski sempat mendapat tawaran untuk membuka cabang di beberapa lokasi strategis, Suprihatin belum berencana mengembangkan usaha ke arah tersebut. Ia lebih memilih fokus menjaga kualitas dan tradisi rasa. “Yang penting masakan tetap seperti dulu, pelanggan puas, itu sudah cukup,” ucapnya.

Rekomendasi Berita