Diskusi Sapa Aruh PPP Yogyakarta, Soroti Moral Politik

KBRN, Yogyakarta: Sejumlah kritik menyoroti dinamika politik Indonesia, potret buram demokrasi di Indonesia hingga masalah korupsi yang semakin marak. Hal ini disampaikan dalam sebuah diskusi "Sapa Aruh" yang digelar DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Yogyakarta, Minggu (14/12/2025).

Diskusi yang mengusung tema besar "Perspektif Partai Islam di Kancah Politik Regional dan Nasional", menghadirkan deretan narasumber seperti GBPH Prabukusumo, Alfian Darmawan, hingga Brotoseno.

Kritik tajam disampaikan Politikus senior PPP, Alfian Darmawan, tentang tidak adanya rasa takut termasuk moral pemangku kebijakan yang kian pudar sehingga korupsi hingga penyimpangan yang kian memprihatinkan saat ini. Bahkan upaya penegakan keadilan bagi masyarakat yang masih butuh perhatian serius.

"Memang persoalannya sekarang ini politisi tidak ada yang ditakuti. Sama Tuhan pun tidak takut, sehingga namanya corruption, penyimpangan, itu terjadi di mana-mana," kata Alfian Darmawan.

Alfian Darmawan mengungkapkan, rakyat memahami carut marut kondisi Indonesia, hanya saja posisi rakyat saat ini tidak bisa dipungkiri pada kondisi takut untuk menyuarakan kebenaran. Sehingga, perlu membangun kesadaran rakyat sekaligus melakukan empowering atau penguatan pada rakyat.

Disamping itu, politik uang juga menjadi perhatian Anggota DPR RI Periode 1997-1999 ini. "Jadi, persoalannya adalah bagaimana kita melakukan proses empowering pada rakyat, kesadaran memilih, jangan karena ada money politic yang hanya sekian ratus ribu, kita korbankan masa depan," ungkapnya.

Alfian Darmawan merasa, masih ada upaya pembodohan dan pemiskinan agar kekuasaan tetap bisa solid, salah satunya melalui money politic. Namun ditegaskannya, hasil dari demokrasi yang tidak sehat dari politik uang yang diterima rakyat, tidak sebanding dengan korban yang akan diterima nantinya.

" Saya kadang merasakan memang ada semacam desain, rakyat selalu dibodohkan, rakyat selalu dibuat miskin, supaya mereka tetap berkuasa. Orang yang punya duit yang bisa kuasa, ketika kemiskinan masih terjadi, yang menang orang yang punya duit," ujar Alfian Darmawan.

Alfian Darmawan mengharapkan, partai Islam bisa memberikan contoh yang konkret, tentang politik yang santun, politik yang menjunjung tinggi keadilan, politik yang selalu mencari kebenaran. Termasuk diharapkan, semakin banyak ruang-ruang dalam mengkampanyekan anti politik uang.

"Marilah kita saya katakan, bahwa ketika kita menjelaskan partai Islam itu tidak karena itu halal dan haram. Tapi bahwa, ini menyejahterakan masyarakat atau tidak? Menyelamatkan masyarakat atau tidak? Yang penting itu yang paling penting. Sehingga tema-tema apapun kampanye, pendekatan, harus untuk manusia, itu yang paling penting, kata kuncinya," ucap Alfian Darmawan.

Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengatakan, berpartai dan berpolitik mempunyai tugas untuk menjaga demokrasi. Apalagi, indeks demokrasi cukup tinggi, meski kesejahteraan belum tinggi.

Dinamika ini lanjut Hasto, harus menjadi introspeksi bahwa, pelaku-pelaku politik yang menjalankan roda demokrasi dan juga kita yang bertanggung jawab, tidak hanya indeks demokrasi yang tinggi, namun juga selaras dengan tingginya kesejahteraan rakyat.

"Itu kritik pada diri saya sendiri dan kepada para pelaku-pelaku politik, ya. Kemudian yang kedua yang saya ikut berharap itu, bahwa musuh kita itu sama, ya kemiskinan, ya kebodohan, ya mungkin kekumuhan, ya belum majuannya itu," kata Hasto.

Dalam mewujudkan itu, Hasto mengajak, seluruh partai politik jangan bertarung antar partai, namun melawan musuh yang dihadapi yakni masalah kemiskinan yang harus menjadi perhatian. "Saya tadi juga nyinggung sedikit bahwa di akhirat kita enggak akan ditanyakan, Anda dulu partai apa? Tapi itu yang ditanyakan orang miskin sudah diurus atau belum, gitu. Itu kan kunci sebetulnya," ungkapnya.

Hasto mengharapkan, orientasi dalam berpolitik seharusnya bukan uang, namun kepercayaan, dan epercayaan ini dibangun dengan kerja nyata untun mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Melalui diskusi ini juga diharapkan semakin tercerahkan tentang demokrasi Indonesia.

"Jadi, jangan sibuk cari uang untuk untuk mencari suara, gitu loh, tapi carilah kepercayaan sebanyak-banyaknya. Kan sekarang pada umumnya pelaku politik itu sibuk cari uang untuk nanti Pilkada, untuk Pileg, itu yang saya kritik sebetulnya, padahal sebenarnya enggak butuh uang, butuh kepercayaan. Mbok, sebaiknya ya kita jangan cari uang setan, terus akhirnya dimakan gundruwo, kan, itu kan, habis juga kan. Ya, jadi yang halal-halal saja," ujar Hasto.

Rekomendasi Berita