Mengenal Dispepsia: Saat Sakit Lambung Bukan Sekadar Maag

RRI.CO.ID, Ende

– Masalah kesehatan lambung sering kali dianggap remeh oleh masyarakat luas karena gejalanya yang muncul secara umum. Padahal, gangguan yang dalam dunia medis disebut dispepsia ini dapat menjadi pemicu kondisi kesehatan yang lebih fatal jika diabaikan.

Dokter Umum Klinik Muhammadiyah Ende, dr. Dwi Putri Wulandari, dalam Talkshow kesehatan bersama Pro 1 RRI Ende,Jumad, 16 Januari 2026, menjelaskan bahwa dispepsia merupakan rasa tidak nyaman pada bagian ulu hati. Kondisi ini terbagi menjadi dua kategori, yakni dispepsia fungsional yang berupa gejala dan dispepsia organik yang menunjukkan kerusakan organ.

Banyak orang menyamakan istilah "maag" dengan lambung, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda dalam konteks kesehatan. Lambung adalah nama organ tubuhnya, sementara maag atau dispepsia adalah gangguan fungsi atau penyakit yang menyerang organ tersebut.

Menariknya, dr. Putri membenarkan fakta bahwa stres dan tekanan psikologis dapat memicu peningkatan asam lambung secara drastis. Saat seseorang stres, hormon kortisol akan meningkat dan merangsang sel-sel lambung untuk memproduksi asam klorida (HCl) lebih banyak.

Meskipun sering menyebabkan nyeri, asam lambung sebenarnya memiliki peran vital dalam sistem pertahanan tubuh manusia. Cairan asam ini berfungsi menghancurkan makanan sekaligus membunuh bakteri atau virus berbahaya yang ikut tertelan masuk.

Namun, produksi asam lambung yang berlebihan tanpa adanya asupan makanan yang cukup dapat mengiritasi dinding lambung sendiri. Kondisi inilah yang sering dialami oleh pasien yang memiliki pola makan tidak teratur atau sering terlambat makan.

Dokter Putri juga menyoroti tren peningkatan pasien usia remaja yang mulai mengeluhkan gangguan lambung di tempat praktiknya. Hal ini dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat serta pola konsumsi makanan yang kurang terjaga.

Makanan berminyak seperti gorengan dan makanan pedas menjadi pemicu utama yang paling sering ditemui pada pasien lambung. Selain itu, konsumsi kafein berlebih dari teh, kopi, dan cokelat juga memberikan efek stimulasi negatif pada lambung.

Masyarakat diminta waspada terhadap "tanda peringatan" atau

warning signs yang dikirimkan oleh tubuh saat lambung bermasalah. Gejala seperti muntah darah, mual terus-menerus, hingga dehidrasi adalah sinyal bahwa gangguan lambung sudah memasuki tahap berat.

Mengabaikan alarm alami tubuh secara berulang akan membuat kondisi lambung semakin memburuk dan sulit untuk dipulihkan kembali. Oleh karena itu, mengenali sinyal tubuh sejak dini adalah langkah preventif terbaik untuk menghindari komplikasi medis.


Rekomendasi Berita