Menkes Sebut Lonjakan TBC Bukti Screening Kian Agresif
- by Eliana Zahra Devina
- Editor Seprianto
- 19 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan peningkatan temuan tuberkulosis (TBC) berasal dari penguatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pemerintah. Ia menegaskan kenaikan angka justru menandakan sistem deteksi dini berjalan lebih agresif dan menjangkau lebih luas.
Menkes menjelaskan selama bertahun-tahun tuberkulosis sulit dikendalikan karena rendahnya tingkat penemuan kasus masyarakat. Pemerintah kemudian memasukkan pemeriksaan TBC ke program CKG berbasis fasilitas pelayanan kesehatan.
“Waktu 2020 saya masuk, dari estimasi WHO 824 ribu cuma 48 yang ketahuan karena kita sibuk ngurusin Covid sampai Juni 2022. Justru angka tuberculosis harus naik supaya ketahuan lebih banyak dan diobati lebih banyak, target saya tahun ini 900 ribu,” ujar Menkes dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.
Menkes menyebut setelah screening diperluas, jumlah temuan kasus TBC terus meningkat setiap tahun secara signifikan. Hingga Desember 2025, jumlah temuan mencapai sekitar 860 ribu kasus dan masih berpotensi bertambah akibat keterlambatan pelaporan.
“Tapi angka sekarang per Desember itu 860 ribu sudah lebih tinggi dari tahun lalu. Pengalaman saya di puskusmas itu masukin datanya tertinggal tiga bulan,” kata Menkes.
Menkes mengatakan pemeriksaan TBC dilakukan dengan pendekatan klinis, rontgen, dan Polymerase Chain Reaction (PCR) secara terpadu. Langkah tersebut bertujuan memastikan diagnosis lebih akurat sebelum penanganan dan pengobatan pasien dilakukan.
“Langsung dites klinisnya, rontgen, dan PCR. Hal tersebut supaya ketahuan apakah TBCnya confirm atau tidak,” ucap Menkes.
Pemerintah juga menyiapkan pengobatan pencegahan bagi kontak serumah penderita untuk memutus rantai penularan penyakit. Selain itu, rejimen pengobatan TBC dipersingkat dari 22 bulan menjadi enam bulan agar kepatuhan pasien meningkat.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago menilai eliminasi TBC masih menghadapi tantangan serius. Ia menyebut penemuan kasus baru belum sepenuhnya mencapai target nasional yang ditetapkan pemerintah.
“Penemuan kasus TBC baru, baru mencapai sekitar 79 persen dari estimasi. Eliminasi TBC masih menjadi pekerjaan rumah yang besar,” ujar Irma.
Irma juga menyoroti rendahnya deteksi TBC resisten obat serta cakupan terapi pencegahan bagi kontak serumah. Menurutnya, ketakutan dan minimnya pemahaman masyarakat masih menghambat keberhasilan program screening nasional.
“Cakupan terapi pencegahan TBC bagi kontak serumah masih jauh dari target nasional. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan terbesar justru berada di fase pasca screening,” kata Irma.